** Translate **

132. Legenda Danau Tondano - The Legend of Tondano

In ancient times in the area Tondano, North Sulawesi, stands towering mountains. On the slopes of the mountain there are 2 areas / regions, the north and south. Southern region dominated by a Tonaas (Ruler) who has a son named Maharimbow.


While ruling the northern region also has a child named Marimbow. Ruling the north shrouded anxiety at the thought of the heir to the throne later, because woman.


To overcome this, he makes an idea that feels weird. He asks her to dress and behave like a man and asked her not to marry for life. North Tonaas request is approved and swore in a traditional ceremony before Opo Empung (Elders). If the oath is violated, there will be a catastrophic havoc the ground.


Meanwhile, apparently Tonaas southern region had a similar problem. Maharimbow promes asked to not marry during her father's lifetime.


On one day of the second heir to the throne met in the border area. Maharimbow feel that the people who saw it, though dressed in a knight but radiates softness of a woman. He became curious and wanted to know who threw it.


At the next meeting which began with fights / fights, Maharimbow successfully opened the mysterious veil that it is women. She is Marimbow! Then the two of them put their heart and agreed to become a husband and wife and determined to unite the two regions.


However, they forgot that they had violated the oath they swore.


The next day, a sudden earthquake and volcanic eruptions are so terrible that wiping the area with rocks and larvae and transformed into a huge puddle that eventually became a lake that we know today as the lake Tondano.


 = = = = = = = = = = = = = = = = = = =  = = = = = = = = = =  = = = = = = = = 


Pada zaman dahulu di daerah Tondano, Sulawesi Utara, berdiri gunung yang menjulang tinggi. Di lereng gunung itu terdapat 2 kawasan / wilayah, yaitu utara dan selatan. Wilayah Selatan dikuasai oleh seorang Tonaas (Penguasa) yang memiliki putra tunggal yang bernama Maharimbow.


Sementara penguasa wilayah utara juga memiliki anak tunggal yang bernama Marimbow. Penguasa bagian utara diselimuti kerisauan saat memikirkan pewaris tahtanya nanti, karena anaknya seorang perempuan.


Untuk mengatasi hal itu, ia membuat suatu ide yang terasa aneh. Ia meminta anaknya untuk berpakaian dan berperilaku layaknya laki-laki dan meminta ia untuk tidak menikah seumur hidup. Permintaan Tonaas Utara disetujui dan diikrarkan dalam upacara adat dihadapan Opo Empung (Tetua). Apabila sumpah itu dilanggar maka akan terjadi malapetaka yang dasyat ditanah itu.


Sementara itu, rupanya Tonaas wilayah selatan memiliki masalah yang hampir sama. Maharimbow diminta bersumpah untuk tidak menikah selama ayahnya masih hidup.


Pada suatu hari kedua pewaris tahta tersebut bertemu didaerah perbatasan. Maharimbow merasakan bahwa orang yang dilihatnya itu, meskipun berpakaian seorang kesatria tetapi memancarkan kelembutan seorang wanita. Ia menjadi penasaran dan ingin mengetahui orang misterius itu.


Pada pertemuan berikutnya yang dimulai dengan pertengkaran / perkelahian, Maharimbow berhasil membuka tabir bahwa orang misterius itu adalah seorang perempuan. Dialah Marimbow ! Kemudian mereka berdua saling menaruh hati dan bersepakat untuk menjadi sepasang suami-istri dan bertekat untuk mempersatukan kedua wilayah tersebut.


Namun, mereka lupa bahwa mereka telah melanggar sumpah yang telah mereka Ikrarkan.


Keesokkan harinya, tiba-tiba terjadi gempa dan gunung meletus yang begitu dasyat sehingga memusnahkan daerah itu dengan bebatuan dan larva dan berubah bentuk menjadi suatu kubangan besar yang akhirnya menjadi danau yang kita kenal sekarang dengan nama danau Tondano.