** Translate **

129. Legenda Danau Situ Bagendit - Garut, Jawa Barat

Once, in a remote village in West Java, there is a wealthy young widow and had no children. Abundant wealth and tremendous house they occupy is the legacy of her husband who had died. However, it is unfortunate, the widow was very miserly, stingy, and greedy. She does not ever want to give aid to those in need. Even if a poor man came to her house to ask for help, she did not hesitate to throw him out. Due to it is miserly and stingy, then the surrounding community called Bagenda Endit, which means that the rich are stingy.


In addition to having a rich inheritance, Bagende Endit also inherited her husband's work as a loan shark. Almost all agricultural land in the village was bought from her residents about ways to squeeze, which lends money to people with high interest payments and gave them a very short time. If people are not able to pay the debt to maturity, the farm must be at stake. That's why wonder so many people around who were poor due to their farms bought out all of the widow.


One day, when Bagende Endit was busy counting the gold and jewels in front of her house, suddenly an old woman carrying a baby came to her.


"Bagende Endit, have mercy on us! It's been two days my kids do not eat, "she said plaintively.


"Hey old woman who does not know herself! So, do not have children if you can not afford to feed! Get out you out of my sight! "Snapped Bagende Endit.


The baby in her arms cried Bagende Endit heard screaming. Due to sorry to see her baby, the old beggar again appealed to the wealthy widow bite of rice in order to provide for her son. Without a word, Bagende Endit into the house. What a happy heart the old woman, thinking Bagende Endit will take food.


"Cup ... cup ... cup ...! Be still, my dear. Soon we'll get food, "she pleaded as she wiped tears from her baby.


Not long after, Bagende Endit came out. However, instead of bringing food, but a bucket of water and suddenly Bagende Endit dribbled toward the old woman.


"Byuuurrr ...! Taste is an old Woman! "Cried Bagende Endit.


Needless to say, the entire body of an old woman and her baby become waterlogged. The baby was crying uncontrollably. Grief-stricken, the old woman tried to shush and baby wipes soaked body.


Seeing the old woman had not yet gone, a rich widow who was unfeeling that getting angry. With a ferocious face, she immediately evict an old woman came out of her yard. After the old woman away, Bagende Endit back into her house.


The next day, some people came to the house asking Bagende Endit well water for cooking and bathing. It just happened to be in the village rich widow that is the only that has a well and the water was very abundant. While residents in the surrounding area have to fetch water at the river quite far from the village.


"Bagende Endit, help us! Let us take water from your well we use to cook. We are starving" threnody a resident from outside the fence Bagende Endit.


"Hi, you all! I did not let you take water in my wells! If you want to take the water, go to the river there! "Kicked Bagende Endit.


The citizens can not do anything about it. Eventually, they were forced to go to the river to fetch water. Not long after the resident passed, suddenly a frail old man standing, holding his stick in front of the house Bagenda Endit. The old man was also intends to ask for water but only for drinking.


"Bagende Endit! Give me drinking a sip of water. I am very thirsty, "The old man pity.


Bagende Endit who'd already become increasingly annoyed annoyed to see the arrival of the old man. Without a word, she walked out of her house and seized a stick the old man. With a stick, she then beat up the old man battered and fell down to the ground. Seeing the old man is not helpless anymore, Bagende Endit throw the stick next to the old man and hurried into the house.


It's unfortunate fate of the old man. Instead of drinking water obtained from the widow but persecution. While holding the pain in his body, the grandfather was trying to grab his cane to get up again. With the remnants of its power, the old man stuck his stick in the yard Bagende Endit. As soon as he pulled it down, the water suddenly gushed out of the former stick. Along with that, the old man disappeared somewhere.


The longer bursts of water, the greater and heavy. The residents were rushed to leave the village to save themselves. Meanwhile, Bagende Endit was still in the house want to save all of her possessions. Without realizing it, it turns the water has submerged entire villages. She was trying to save himself while screaming for help.


"Help.... Help... Help me! I can not swim! "Bagende Endit shouted for help while carrying a crate of gold and gems.


Bagende Endit kept screaming until her voice became hoarse. But no one came to help her because all the people have left the village. Stingy rich widow who can no longer save themselves and sank with all her wealth. Over time, the village was kept under water until it disappears and becomes for a lake wide and deep. By the local community, the lake was named Situ Bagendit. The word there means a vast lake, while the word is taken from the name of Bagende Bagendit Endit.


 = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Jawa Barat, ada seorang janda muda yang kaya raya dan tidak mempunyai anak. Hartanya yang melimpah ruah dan rumah sangat besar yang ditempatinya merupakan warisan dari suaminya yang telah meninggal dunia.


Namun sungguh disayangkan, janda itu sangat kikir, pelit, dan tamak. Ia tidak pernah mau memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan. Bahkan jika ada orang miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan, ia tidak segan-segan mengusirnya. Karena sifatnya yang kikir dan pelit itu, maka masyarakat di sekitarnya memanggilnya Bagenda Endit, yang artinya orang kaya yang pelit.


Selain memiliki harta warisan yang melimpah, Bagende Endit juga mewarisi pekerjaan suaminya sebagai rentenir. Hampir seluruh tanah pertanian di desa itu adalah miliknya yang dibeli dari penduduk sekitar dengan cara memeras, yaitu meminjamkan uang kepada warga dengan bunga yang tinggi dan memberinya tempo pembayaran yang sangat singkat. Jika ada warga yang tidak sanggup membayar hutang hingga jatuh tempo, maka tanah pertaniannya harus menjadi taruhannya. Tak heran jika penduduk sekitarnya banyak yang jatuh miskin karena tanah pertanian mereka habis dibeli semua oleh janda itu.


Suatu hari, ketika Bagende Endit sedang asyik menghitung-hitung emas dan permatanya di depan rumahnya, tiba-tiba seorang perempuan tua yang sedang menggendong bayi datang menghampirinya.


"Bagende Endit, kasihanilah kami! Sudah dua hari anak saya tidak makan,” kata perempuan itu memelas.


"Hai perempuan tua yang tidak tahu diri! Makanya, jangan punya anak kalau kamu tidak mampu memberinya makan! Enyahlah kau dari hadapanku!” bentak Bagende Endit.


Bayi di gendongan perempuan itu pun menangis mendengar suara bentakan Bagende Endit. Karena kasihan melihat bayinya, pengemis tua itu kembali memohon kepada janda kaya itu agar memberikan sesuap nasi untuk anaknya. Tanpa sepatah kata, Bagende Endit masuk ke dalam rumah. Alangkah senangnya hati perempuan tua itu, karena mengira Bagende Endit akan mengambil makanan.


"Cup... cup... cup...! Diamlah anakku sayang. Sebentar lagi kita akan mendapatkan makanan,” bujuk perempuan itu sambil menghapus air mata bayinya.


Tak berapa lama kemudian, Bagende Endit pun keluar. Namun, bukannya membawa makanan, melainkan sebuah ember yang berisi air dan tiba-tiba Bagende Endit menyiramkannya ke arah perempuan tua itu.


"Byuuurrr...! Rasakanlah ini hai perempuan tua!” seru Bagende Endit.


Tak ayal lagi, sekujur tubuh perempuan tua dan bayinya menjadi basah kuyup. Sang bayi pun menangis dengan sejadi-jadinya. Dengan hati pilu, perempuan tua itu berusaha mendiamkan dan menyeka tubuh bayinya yang basah kuyup. Melihat perempuan tua belum juga pergi, janda kaya yang tidak berperasaan itu semakin marah. Dengan wajah garang, ia segera mengusir perempuan tua itu keluar dari pekarangan rumahnya. Setelah perempuan tua itu pergi, Bagende Endit kembali masuk ke dalam rumahnya.


Keesokan harinya, beberapa warga datang ke rumah Bagende Endit meminta air sumur untuk keperluan memasak dan mandi. Kebetulan di desa itu hanya janda kaya itulah satu-satunya yang memiliki sumur dan airnya pun sangat melimpah. Sementara warga di sekitarnya harus mengambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh dari desa.


"Bagende Endit, tolonglah kami! Biarkanlah kami mengambil air di sumur Bagende untuk kami pakai memasak. Kami sudah kelaparan,” iba seorang warga dari luar pagar rumah Bagende Endit.


"Hai, kalian semua! Aku tidak mengizinkan kalian mengambil air di sumurku! Jika kalian mau mengambil air, pergilah ke sungai sana!” usir Bagende Endit.


Para warga tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, mereka pun terpaksa pergi ke sungai untuk mengambil air. Tak berapa lama setelah warga tersebut berlalu, tiba-tiba seorang kakek tua renta berdiri sambil memegang tongkatnya di depan rumah Bagenda Endit. Kakek itu juga bermaksud untuk meminta air tapi hanya untuk diminum.


"Ampun Bagende Endit! Berilah hamba seteguk air minum. Hamba sangat haus,” iba Kakek itu.


Bagende Endit yang sejak tadi sudah merasa kesal menjadi semakin kesal melihat kedatangan kakek tua itu. Tanpa sepatah kata pun, ia keluar dari rumahnya lalu menghampiri dan merampas tongkat sang kakek. Dengan tongkat itu, ia kemudian memukuli kakek itu hingga babak belur dan jatuh tersungkur ke tanah. Melihat kakek itu tidak sudah tidak berdaya lagi, Bagende Endit membuang tongkat itu di samping kakek itu lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Sungguh malang nasib kakek tua itu. Bukannya air minum yang diperoleh dari janda itu melainkan penganiayaan. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, kakek itu berusaha meraih tongkatnya untuk bisa bangkit kembali. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, kakek itu menancapkan tongkatnya di halaman rumah Bagende Endit. Begitu ia mencabut tongkat itu, tiba-tiba air menyembur keluar dari bekas tancapan tongkat itu. Bersamaan dengan itu, kakek itu pun menghilang entah ke mana.


Semakin lama semburan air itu semakin besar dan deras. Para warga pun berlarian meninggalkan desa itu untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Bagende Endit masih berada di dalam rumahnya hendak menyelamatkan semua harta bendanya. Tanpa disadarinya, ternyata air telah menggenangi seluruh desa. Ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri sambil berteriak meminta tolong.


"Tolooong.... Toloong... Tolong aku! Aku tidak bisa berenang!” teriak Bagende Endit meminta tolong sambil menggendong sebuah peti emas dan permatanya.


Bagende Endit terus berteriak hingga suaranya menjadi parau. Namun tak seorang pun yang datang menolongnya karena seluruh warga telah pergi meninggalkan desa. Janda kaya yang pelit itu tidak bisa lagi menyelamatkan diri dan tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya. Semakin lama, desa itu terus tergenang air hingga akhirnya lenyap dan menjadilah sebuah danau yang luas dan dalam. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Situ Bagendit. Kata situ berarti danau yang luas, sedangkan kata bagendit diambil dari nama Bagende Endit.