** Translate **

112. Ratu Aji Bidara Putih - Kalimantan Timur

Muara Kaman yore country ruled by a queen named Queen Aji Bidara Puthi. Queen Aji Bidara Puthi is a girl beautiful. Graceful appearance and is very private and discreet. All the advantages that made it famous to everywhere, and even to foreign countries. The Queen is really like a beautiful flower, fragrant scent. So it is not surprising that after many kings, princes and nobles who wanted to marry a wife.


Proposal after proposal flows like Mahakam river water that never stops flowing. But the Queen has always refused. "There are times when I think of marriage. Myself and my attention is still needed by the people I love. I still want to continue to advance this country, "she said.


Then one day came a junk or a large ship from China. The ship sailed wide river Mahakam like the ocean. Heading upstream. Until finally anchored not far from the port of Muara Kaman country. Locals thought the passenger ship comes to trade. Because it was already common foreign ships coming and stopped to trade. But apparently the passenger ship has another purpose.


Indeed, the ship is a ship belonging to a well-known prince wealth in the country of China. She was accompanied by an army of mighty warriors and highly skilled in martial arts. His visit to Muara Kaman solely by one destination. Not willing to trade, but want to woo the Queen Aji Bidara Puthi.


Then fell the messengers of the Prince. They overlook Queen Aji Bidara Puthi at the palace country. They carry antiques of gold, and a well-known Chinese ceramics. All that they dedicate it as a gift to Queen Aji Bidara Puthi of their lord. While doing so they convey the proposal of the Prince towards self Queen Aji Bidara Puthi.


This time the Queen was not immediately rejected. She said that he will still be thinking about the proposal of the Prince. Then she ordered to the messengers returned to the ship. After the envoys left the palace, the Queen summoned a retainer beliefs.


"Uncle, the envoys had felt very flattering lord. That prince is handsome, rich and powerful. I wonder, what it's all true or just a mere braggadocio. For that I need your help."


"What should I do, my Queen?" Said the courtier.


"Tonight you get yourself to slip quietly into the alien ship. Investigate the state of the prince. Then report the results to me."


"Well, my Queen. I will carry out your orders as well as possible."


When blanket night down to earth, the courtier lord set off carry out orders. With his expertise he crossed the river without sound. Then he jumped onto the deck of a ship by himself. With a gesture he avoided alert the guards. Carefully, he sought the prince booth. Until he finally managed to find it.


Luxury boiling chamber door closed. But the situation in it is still bright, alert the prince was not asleep. The retainer looking into the eyehole, but did not find. Then finally he can only put his ear to the wall of the cubicle, listening to the sounds from within.


At the moment it is actually the Prince Chinese were eating with chopsticks, while occasionally sipping wine from the chalice. Smacking and slurping sound surprising bodyguard mouth.


"Gosh .. sound when eating reminds me ... to what? "thought the retainer remembering. Then the retainer really remember. At the time he saw the boar hunt and was drinking at the creek. His voice is also smacking and slurping like that. He also remembered the sound of the mouths of dogs and cats when eating.


"Ah yes ... absolutely right ... just like the voice I heard! So lest.. Suddenly the retainer widened eyes. As everyone remembers something of a surprise. Almost simultaneously with that he slipped left to hide. He left the ship and hurried back to report to the Queen Aji Bidara Puthi.


"You're not making it up, Uncle, 'said the Queen after hearing reports that retainer.


"I'm not making this up, my Queen! His voice when eaten earlier assured me, "said the courtier. Prince was definitely not human like us. Surely he stealth! Either stealth pig, dog or cat. Anyway stealth! Only during the day she change into humans! Believe me lord. I am not making this up .."


A convincing explanation of the retainer make Queen Aji Bidara Puthi finally believe. Not funny, she thought, if she gets married to stealth. Though many kings and a prince charming who ask for her hand. So the next day, he strongly opposed the proposal stating that the prince.


The Prince is furious to hear rejection Queen Aji Bidara Puthi. How dare she was refused. In cray he immediately ordered his soldiers to attack the country in Muara Kaman. The soldiers stormed the country Muara Kaman. Obvious that they are more experienced in the art of fighting. The soldiers forced Muara Kaman, casualties in the fighting, it more and more.


While the soldiers telling the prince approached the palace. Queen  Aji Bidara Puthi feel sad and panicked. But then she tried to calm her mind. She was a moment of silence. After that she chewed betel. Then chew betel junk clutched tightly. Then she said..


"If I am correct descendant of the kings of the magic, there was something that could repel the enemy who were threatening my country!"


At the same time betel junk tossed into battle ... and, gosh .. look!


Suddenly it turned out to be junk betel centipedes, giant centipedes of the vast amount! Centipedes, millipedes that are more than one meter was immediately attacked the soldiers Princes China. The soldiers became frightened. They ran away and returned to the ship.


Centipedes, millipedes But it does not stop attacks. Three giant centipede tail represents the group. They swam to the boat, and then reverse it until the ship was sunk and all the occupants and contents ... The former sinking up to now by the Muara Kaman called Lake Centipede.


That said, according to the owner of the story, the first in this place occasionally find antiques from China.



Dahulu kala negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu Aji Bidara Puthi. Ratu Aji Bidara Puthi adalah seorang gadis yang cantik jelita. Anggun pribadi dan penampilannya serta amat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana, bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang ingin mempersunting sebagai istri.


Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun sang Ratu selalu menolak.


"Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini,” ujarnya.


Kemudian pada suatu hari muncullah sebuah jung atau kapal besar dari negeri Cina. Kapal itu melayari sungani Mahakam yang luas bagai lautan. Menuju ke arah hulu. Hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman. Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi ternyata penumpang kapal itu mempunyai tujuan lain.


Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri Cina. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan amat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau berdagang, tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Puthi.


Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu Aji Bidara Puthi di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah bagi Ratu Aji Bidara Puthi dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran terhadap diri Ratu Aji Bidara Puthi.


Kali ini sang Ratu tidak langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilakannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya.


“Paman, para utusan tadi terasa amat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa pangeran itu tampan, kaya dan perkasa. Aku jadi ingin tahu, apakah itu semua benar atau cuma bual belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuannmu."


"Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.


"Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku."


"Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya."


Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyeberangi sungai tanpa suara. Lalu ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik sang pangeran. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.


Pintu bilik yang sangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda sang pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip kedalam, namun tidak menemukan. Maka akhirnya ia hanya dapat menempelkan telinga ke dinding bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam.


Pada saat itu sebenarnya sang Pangeran Cina sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan sipunggawa.


"Astaga.. suara ketika makan mengingatkanku kepada.. kepada apa, ya?” pikir si Punggawa sambil mengingat-ingat.


Kemudian si Punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga teringat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika melahap makanan.


"Ah ya… benar-benar persis… persis seperti suara yang kudengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbelalak.


Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Puthi.


"Kau jangan mengada-ada, Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan punggawa itu.


"Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya, ” kata si punggawa.


"Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman! Entah siluman babi hutan, anjing atau kucing. Pokoknya siluman! Hanya pada waktu siang ia berubah ujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tidak mengada-ada.."


Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Ratu Aji Bidara Puthi akhirnya percaya. Tidak lucu, pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak raja dan pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan pangeran itu.


Sang Pangeran amat murka mendengar penolakan Ratu Aji Bidara Puthi. Berani benar putri itu menolaknya. Dalam kekalapannya ia segera memerintahkan pada prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman. Para prajurit itu menyerbu negeri Muara Kaman. Kentara bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur.


Para prajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh akibat pertempuran itu semakin bertambah banyak. Sementara para prajurit suruhan sang pangeran makin mendekat ke arah istana. Ratu Aji Bidara Puthi  merasa sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta. setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudian kunyahan sepah sirih digenggamnya erat-erat. Lalu berkata..


"Jika benar aku keturunan raja-raja yang sakti, terjadilah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!"


Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran.. dan , astaga..lihatlah!


Tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan raksasa yang amat banyak jumlahnya! Lipan-lipan yang panjangnya lebih dari satu meter itu segera menyerang para prajurit Pangeran Cina. Para prajurit itu menjadi ketakutan. Mereka lari tunggang-langgang dan kembali ke kapal.


Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikkannya hingga kapal itu tenggelam beserta seluruh penumpangnya dan isinya… Tempat bekas tenggelamnya kapal itu hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan.


Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat ini sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri Cina.