** Translate **

108. Naga Sabang dan Dua Raksasa Seulawah - Aceh

At a time when the island Andalas still separated into two islands, namely the island of the eastern and western parts of the island, two islands separated by a very narrow strait row. The Island it there lived a Dragon named Sabang. At that time the island stood on both sides of the two kingdoms called Kingdom of Daru and the Kingdom of Alam. Kingdom of Daru led by the Sultan Daru in the eastern part of the island and kingdom led by Sultan Alam are the western island.


Sultan Alam was very fair and thoughtful to the people and very smart trade that Alam becomes the royal kingdom prosperous and progressive. While Sultan Daru very cruel to people and likes merompak merchant ships passing through its waters.


So one day was called Daru royal advisor named Tuanku Gurka. Daru has long envied the Sultan Alam and he had often tried to attack the kingdom of Alam, but always blocked by Dragon Sabang, so the desire to master the prosperous kingdoms of Alam is not reached.


"My lord Gurka, we have often attacked the kingdom of Alam but always blocked by the Dragon Sabang. You try to find out who the person who can beat the Dragon", the orders of Sultan Daru."


"Your Majesty, the Dragon Sabang is the keeper strait Front, if the Dragon dies, the second island will be fused because no creature is capable of treating a buffer between the two islands in addition to the Dragon,"explained Lord Gurka."


"I do not care about the two islands fusedr, I wanted to rule the kingdom of Alam,"explained Sultan Daru."


"There are two giant named Seulawah Agam and Seulawah Inong, they are very powerful," Gurka said."


"Seulawah Agam has enormous power while Seulawah Inong have geulantue sword is very quick and very sharp,"added Gurka. Then shortly afterwards came the two giants are facing Sultan Daru to deliver their ability to fight with Dragon Sabang. Soon sent envoy to Dragon Sabang to let that the two giants would come to fight him.


Dragon Sabang sad to hear the news and soon the Sultan Alam."


"Sultan Alam, had come a messenger Sultan Daru to me the message that the two giants Selawah Agam and Seulawah Inong will come against me," Obviously the Dragon's to Sultan Alam. "They are very strong, I'm afraid to lose," said the Dragon."If I had killed the two islands will coalesce, the earth will shakes hard and the sea will recede, then dispatch your people ran into the high mountain, because after that will come ie beuna. It is a very large wave that would sweep this land", the message of the Dragon.


Sultan Alam Shedding tears to hear the message of Dragon's friend."


"Well my friend, I will convey your message is to the people."


"So at the appointed time, there was a fierce battle between the Dragon Sabang and the two giants in beach. Sultan and the people of the two kingdoms exciting watching the fight from a distance. On one occasion managed to cut the Inong Selawah giant sword to the neck of the Dragon. Then Seulawah Agam giant lift Dragon's body and screamed.


"Weehh", the Dragon's body, throwing it far, far away, behold, the Dragon's body lying on the high seas fall.


For a moment all was silent, then to Sultan Alam yelled, waving his hand to the body of the Dragon that lay deep in the ocean.


"Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!" Called Sultan Alam."O Sultan Alam, do not you call the Dragon again!, He's dead ..... it Ulee leue" Shouts Sultan Daru across the strait while showing Dragon Sabang's heads towards lying on the beach.


Suddenly the two islands move toward each other and collide so that there was a very loud earthquake. Land sway here and there, no one can stand. These two powerful giants sat down on the beach. Shortly after the earthquake stopped, the sea water receded so far thrashing around fish on the beach. Sultan Daru and merry people see fish thrashing around they immediately picked up the fish, while the sultan Alam and people ran to the high mountains of the Dragon Sabang appropriate message. Soon there came a huge wave swept Andalas island. Sultan Daru and people are delighted by the huge waves hit it. These two powerful giants also slammed by huge waves far from land. Houses were destroyed, livestock were lying dead, destroyed rice fields, villages and towns destroyed.


While Sultan Alam and people watch horrific Genesis of the high mountains. Since then the Andalas island together under the leadership of Sultan Alam Fair and wise. They rebuild villages and towns were destroyed. Then Sultan Alam build a royal town near the former head of the Dragon. The town was named Koeta Radja and the former head of the Dragon beach called Ulee leue (snake head). While the second place was buried giant magic Seulawah named Agam and Seulawah Inong. While the island tebentuk of the Dragon's body is called the island of Weh (away) or the island of Sabang.


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini dipisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit. Diselat itu tinggalah seekor naga bernama Sabang. Pada masa itu dikedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam.


Kerajaan Daru di pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.


Maka pada suatu hari dipanggillah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka.


Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam, namun selalu dihalangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.


“Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh naga Sabang. Coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru.


“Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati, maka kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.


"Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.


“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.


“Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.


Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesanggupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.


Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam.


”Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam.


"Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga.


“Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan  berguncangan keras dan air laut akan surut,  maka suruhlah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna. Itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga.


Sultan Alam menitikan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya.


"Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku."


Maka pada waktu yang sudah ditentukan, terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikan pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang Naga.


Kemudian raksasa Seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak.


"Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga  itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah  tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.


Sejenak semua orang terdiam, kemudian sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, “Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!” panggil Sultan Alam.


"Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, Teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.


Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras. Tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri. Kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai.


Tak lama setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.


Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira dihantam oleh gelombang besar itu. Kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadi mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.


Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang Adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur. Kemudian Sultan Alam membangun sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga. Kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.