** Translate **

107. Legenda Telaga Pasir - Magetan, Jawa Timur

Lawu forest area used to live a couple who named Kyai Pasir and Nyai Pasir. They lived in a simple hut walled and roofed wooden leaves around the slopes of the volcano.


One day Kyai Pasir went to the forests around Mt Lawu to open fields and rice paddies. After arriving at the site is considered suitable Kyai Pasir started clearing the field by removing trees and shrubs that is in place.


At the time of going to cut down a large tree, Kyai Pasir surprised to see there was an egg around the roots. He studied it for a while egg wonder, "why no eggs in this place, but not for a bird was hanging around". Without thinking anymore, Kyai Pasir immediately took the egg to take home and given to his wife.


Arriving at the house Kyai Pasir directly to his wife's eggs to be cooked. The wife then boiled and split into two parts, half to himself and half to Kyai Pasir.


Not long after the mysterious egg devour Kyai Pasir and Nyai Pasir and her body felt uncomfortable. Their body felt hot, dizzy eyes, and sweating profusely. They reflexively immediately rolled on the ground that the pain subsides soon. However, the more they rolled pain sudden increase.


A few minutes later, the magic suddenly their bodies begin to change into a dragon, a huge, disgruntled, and it was scary. The two people who had been turned into a dragon was still rolling here and there, causing the surrounding land to be scattered and formed a large basin increasingly broad and deep, and a basin that eventually became a lake by the surrounding community called Telaga Pasir.


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Di daerah hutan Gunung Lawu dahulu hidup sepasang suami-isteri yang bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka tinggal dalam sebuah pondok sederhana berdinding kayu dan beratap dedaunan di sekitar lereng gunung tersebut.


Suatu hari Kyai Pasir pergi ke hutan di sekitar Gunung Lawu untuk membuka ladang dan bercocok tanam. Setelah sampai di lokasi yang dianggap cocok Kyai Pasir mulai membersihkan ladang dengan cara menebangi pepohonan dan semak belukar yang ada di tempat itu.


Pada saat hendak menebang sebuah pohon yang berukuran besar, Kyai Pasir terkejut karena melihat ada sebutir telur berada di sekitar akarnya. Diamatinya telur itu sejenak sambil bertanya dalam hati, “mengapa ada telur di tempat ini, padahal tidak ada seekor unggas pun yang berkeliaran”. Tanpa berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera mengambil telur itu untuk dibawa pulang dan diberikan kepada isterinya.


Sesampainya di rumah Kyai Pasir langsung memberikan telur itu kepada isterinya untuk dimasak. Sang isteri kemudian merebus dan membelahnya menjadi dua bagian, setengah untuk dirinya dan setengah lagi untuk Kyai Pasir.


Tidak berapa lama setelah memakan habis telur misterius tersebut Kyai Pasir dan Nyai Pasir merasakan tubuhnya tidak nyaman. Badan mereka terasa panas, mata berkunang-kunang, dan keringat dingin mengucur deras. Mereka pun secara refleks langsung berguling-guling di tanah agar rasa sakitnya segera reda. Namun, semakin mereka berguling rasa sakit yang tiba-tiba itu semakin bertambah.


Beberapa menit kemudian, secara gaib tiba-tiba tubuh mereka mulai berubah wujud menjadi seekor naga yang sangat besar, bersungut, dan terlihat sangat menakutkan. Kedua orang yang telah berubah menjadi naga itu tetap berguling kesana-kemari hingga menyebabkan tanah di sekitarnya menjadi berserakan dan membentuk sebuah cekungan besar yang makin lama makin luas dan dalam, dan cekungan itu akhirnya menjadi sebuah telaga yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Telaga Pasir.