Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia....

106. Putri Tujuh, Mayang Mengurai - Dumai

In the days of yore, Dumai just a quiet fishing village, located on the eastern coast of Riau Province, Indonesia. Now, Dumai rich with oil, the oil port city was transformed into a very busy since 1999. Oil tank Ships every day layover and docked at this port. Refineries that flourished around the harbor makes Dumai City at night glittering like sparkling jewels. Another wealth Dumai City is the diversity of traditions. There are two traditions that has long developed among the people of the city Dumai writings and oral traditions.


One of the oral tradition which is very popular in this area are the stories told by people from generation to generation. Until now, Dumai City still holds some of the popular folklore and have a moral function crucial to the life of the community, such as an educational tool, teaching morals, entertainment, and so on. One of the stories of the people who are still growing in Dumai is Princess Legend of the Seven. The legend tells of the origin of the name of Dumai.


That said, in the days of yore, in the Dumai up a kingdom named Seri Tanjung Bunga. The kingdom is ruled by a queen named Cik Sima. The queen has seven daughters nan exquisite beauty, known as Seven Women. Of the seven princesses, youngest is the most beautiful princess, named Mayang Sari. Princess Mayang Sari has the striking beauty of the body, silky soft skin, beautiful face radiant as the moon, like a ruby ​​red lips, eyebrows like ants successive, long and curly hair straggling like Virgin. Therefore, the Princess also known as Mayang Mengurai.

One day, the seventh daughter was bathing in the depths of Sarang Umai. Due to busy soaking and joking, the seventh daughter was not aware there were several pairs of eyes were watching them, who was a prince and his bodyguards Kuala dam who was passing by the area. They observed the seventh daughter of the bush. Secretly, the Prince was fascinated by the beauty of one of the daughters is none other than Princess Mayang Sari. Without realizing it, the Prince Empang Kuala murmured softly, "pretty girl .... pretty deep Umai Umai. Ya, ya ..... d'umai ... d'umai ...


"The words were spoken in the deeply heart the Prince Empang Kuala. Apparently, the Prince fell in love with her. Therefore, the Prince intends to ask for her hand.


A few days later, the Prince sent a messenger to woo the daughter that he knew named Mayang Mengurai. Envoys deliver slap betel as greatness king custom proposal to the Royal Family Seri Bunga Tanjung. The proposal was welcomed by the Queen Cik Sima with glory customs prevailing in the Kingdom of Seri Bunga Tanjung. In response the Prince Empang Kuala's proposal, Queen Cik Sima also upheld the customary royal nut filling and gambier in combol greatest among seven combol slap that is in it. The others deliberately not filled it, so it empty. The custom symbolizes that women are entitled to receive a proposal oldest first.


Knowing the prince rejected the proposal, the envoys returned to the prince's.


"Please Lord King! I'am not intention disappoint. The Royal Family Seri Bunga Tanjung has not been willing to accept the proposal to marry Princess Mayang Mengurai.


"Hearing the report, the King was furious because of extreme shyness. The Prince was no longer concerned with the customs prevailing in the country of Seri Tanjung Bunga. His anger can not be controlled anymore. The Prince was immediately ordered his commanders and soldiers to attack the Kingdom Seri Bunga Tanjung. So, the battle between the two kingdoms on the outskirts of the waterway was not inevitable.


Amid the wake of the war, Queen Cik Sima seventh daughter immediately ran into the woods and hid them in a hole that was open to the ground and shielded by trees. There is also the seventh daughter of the Queen provide enough food for three months. After that, the Queen returned to the kingdom to organize resistance against the forces of Prince Empang Kuala.


It's been 3 months have passed, but the battle between the two kingdoms never ended. After entering the fourth month, Queen Cik Sima forces increasingly desperate and helpless. Finally, the State Seri Bunga Tanjung destroyed, many people were killed. Seeing the country devastated and helpless, the Queen Cik Sima immediately ask devil to helps her who was imprisoned in the hills of Hulu Sungai Umai.


On the evening, the troops were resting the Prince Empang Kuala downstream Umai. They shelter under mangrove trees. However, the night before the terrible event occurred. All of a sudden they hit thousands of mangrove fruit fell and stabbed into the body of the troops the Prince Empang Kuala. Less than half the night, the troops of Prince Empang Kuala be disabled. At the time that the Kingdom Kuala helpless, came Queen Cik Sima envoy overlooking Prince Empang Kuala.

Saw the arrival of the messenger, the prince who was slumped in pain immediately asked,


"Oh, the people of Seri Bunga Tanjung, what is this coming?.



The messenger replied, "I'am coming to deliver a message from the Princess Cik Sima that Prince Queen willing to stop this war. Our actions have corrupted the earth, and tarnished magic auspicious coastal shoreline Seri Bunga Tanjung. Who came up with bad intentions, catastrophe will befall, otherwise who's coming to the country with good intentions Seri Bunga Tanjung, will prosperous his life,"said the envoy the Queen Cik Sima explained.


Hearing the explanation the Queen Cik Sima envoy, the Prince Empang Kuala realized, that he was starting the war. Prince immediately ordered to go back to Empang Kuala State.



The next day, the Queen Cik Sima rushed to her daughter's seventh hiding place in the forest. Surprise, Queen Cik Sima, as the seventh daughter was in a state of lifeless. They died of thirst and hunger. Apparently the Queen Cik Sima forget, if supplies are provided only enough for three months. While the war between the Queen Cik Sima with Prince Empang Kuala lasts up to four months.


Finally, unable to withstand the seventh sorrow over the death of her daughter, the Queen Cik Sima fell ill and soon died. Until now, the sacrifice of Princess Seven is still remembered in a song :


Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending


Since then, people believed that Dumai Dumai city name taken from the word "d'umai" is always pronounced when looking at Prince Pond Kuala Beauty Princess Mayang Sari or Mayang Mengurai. In Dumai also found historical sites such as Seven Women pesanggarahan located in the complex of PT Pertamina Dumai oil refinery.


In addition, there are a few place names are enshrined in Dumai city to commemorate the event, including: oil refineries owned by Pertamina Dumai daughter named Seven; hill Umai River upstream hermitage hill named Bukit Jin. Then Seven Girls lyrics until now used the song accompanist and Fun Dance Pulai Mayang for physicians when treating the sick.


= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada di pesisir Timur Propinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan.


Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.


Konon, pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.


Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai….cantik di Umai. Ya, ya…..d’umai…d’umai…."


Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.


Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.


Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.


Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala.


Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.


Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.


Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan.


Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.


Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan.


Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik :


Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending



Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d’umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai.


Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya : kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.