Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia....

88. Kisah Sedih si Gadis Miskin - Sad story of the poor girl

Muha is a beautiful teenage girl. Since childhood she had suffered from a chronic illness. Since childhood she wanted to be merry, playing, joking and whistling like a bird as children age. Is not he entitled to feel it ?

Since the disease was attacking her, she can not run a normal life like everyone else, even though he remains under the supervision of physicians and drug-dependent.

Muha grew up along with her illness. She became a teen who is gorgeous and has a noble character and religious. Even in a state hospital, but she was still trying to get the knowledge and lessons learned from the spring that never runs out of science. Although sometimes even the frequent recurrence of chronic illness that forced her to lie in bed for days.

After some time by the will of God is a handsome young man came to woo, though he had heard about a chronic illness. But all of that does not detract one bit of beauty, religion and moral ... except health, although health is a very important thing. But why? Did not she also have the right to marry and bear children who will fill and animate life as befits someone else ?

So day by day the young man turned into months months providing material support in order to continue her treatment in one of the best hospitals. Moreover encouragement he always gave.

The days turned quickly, it's time for the wedding preparations and the ship sailed home. A few days before the wedding, the candidate went to inquire workmanship wedding dress was still in the tailor. The dress is still hanging in front of the tailor shop. Dress implies beauty and tenderness. No one knows how you feel when you see the dress Muha.

Surely her heart fluttering like a bird flapping white wings embrace the sky and embrace the vast horizon. She must be very happy not because of the dress, but since a few days she will enter a beautiful day in her life. She will feel peace of mind, her life began to laugh, and she sees the brightness in life. When a beautiful dress was worn Muha, would make his appearance like a snow princess beautiful. Natural beauty that makes it more elegant, graceful and charming. Although the dress looks beautiful, but is still in need of a little repair. Therefore, the dress was still left at the tailor. The candidate intends to take tomorrow. The tailor asked for leniency and promised to finish it in three days.

Three days went by so quickly and it was time for the wedding day, the day that up later. Muha day wake up sooner and actually she did not sleep that night. Excitement made her eyes closed. That evening when a young bride with the best moral.

The young man  called his bride, Muha, informing that half an hour he would go to the tailor to pick up the dress so that she can try and more convinced that the dress was appropriate for him. The young man went to the tailor and drove at high speed driven feeling happy and excited about the event which is the most important and valuable event for him, as well as for Muha.

Due to glide at high speed, the car is out of the road and overturned several times. After that, the ambulance came and rushed his to the hospital. But God is above all, a few moments later the young man had died. While the tailor the phone rang asking about him. The tailor informed that till now he has not got to the house when it is too late.

Finally arriving home seamstress bride. Even if so, the family is not concerned because the delay brought the dress. They even asked him to tell the young man that ill Muha sudden relapse and is now being rushed to the hospital. This time the pain was not given much chance Muha. The pain was still as merciful to him, did not want to Muha to feel sick. Now the pain really makes the pain and misery that exceeds the suffering he felt throughout her short life.

A few minutes later came the news of the death of the young man in the hospital and after that came the news of the death did his bride, Muha.

So grief that befell the two teenagers, the flowers have withered and died, the birds chirping to their sadness and grief. Evening be imagined would be the most beautiful and impressive, it turned into a night of grief and lamentation.

Now the dress is still hanging in front of the tailor shop. There is nothing to wear and no one will ever wear. As if the dress tells a sad story Muha. All who saw it would have to wonder, who is the owner.?

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Muha adalah seorang gadis remaja yang cantik. Sejak kecil ia sudah mengidap penyakit yang kronis. Sejak usia kanak-kanak ia ingin bergembira, bermain, bercanda dan bersiul seperti burung sebagaimana anak-anak yang seusianya. Bukankah ia juga berhak merasakannya?

Sejak penyakit itu menyerangnya, ia tidak dapat menjalankan kehidupan dengan normal seperti orang lain, walaupun ia tetap berada dalam pengawasan dokter dan bergantung dengan obat. 

Muha tumbuh besar seiring dengan penyakit yang dideritanya. Ia menjadi seorang remaja yang cantik dan mempunyai akhlak mulia serta taat beragama. Meski dalam kondisi sakit namun ia tetap berusaha untuk mendapatkan ilmu dan pelajaran dari mata air ilmu yang tak pernah habis. Walau terkadang bahkan sering penyakit kronisnya kambuh yang memaksanya berbaring di tempat tidur selama berhari-hari.

Selang beberapa waktu atas kehendak Allah seorang pemuda tampan datang meminang, walaupun ia sudah mendengar mengenai penyakitnya yang kronis itu. Namun semua itu sedikit pun tidak mengurangi kecantikan, agama dan akhlaknya… kecuali kesehatan, meskipun kesehatan adalah satu hal yang sangat penting. Tetapi mengapa? Bukankah ia juga berhak untuk menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengisi dan menyemarakkan kehidupannya sebagaimana layaknya wanita lain?

Demikianlah hari berganti hari bulan berganti bulan si pemuda memberikan bantuan materi agar si gadis meneruskan pengobatannya di salah satu rumah sakit terbaik. Terlebih lagi dorongan moril yang selalu ia berikan.

Hari berganti dengan cepat, tibalah saatnya persiapan pesta pernikahan dan untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Beberapa hari sebelum pesta pernikahan, calonnya pergi untuk menanyakan pengerjaan gaun pengantin yang masih berada di tempat si penjahit. Gaun tersebut masih tergantung di depan toko penjahit. Gaun tersebut mengandung makna kecantikan dan kelembutan. Tiada seorang pun yang tahu bagaimana perasaan Muha bila melihat gaun tersebut. Pastilah hatinya berkepak bagaikan burung yang mengepakkan sayap putihnya mendekap langit dan memeluk ufuk nan luas. Ia pasti sangat bahagia bukan karena gaun itu, tetapi karena beberapa hari lagi ia akan memasuki hari yang terindah di dalam kehidupannya. Ia akan merasa ada ketenangan jiwa, kehidupan mulai tertawa untuknya dan ia melihat adanya kecerahan dalam kehidupan. Bila gaun yang indah itu dipakai Muha, pasti akan membuat penampilannya laksana putri salju yang cantik jelita. Kecantikannya yang alami menjadikannya semakin elok, anggun dan menawan. Walau gaun tersebut terlihat indah, namun masih di perlukan sedikit perbaikan. Oleh karena itu gaun itu masih ditinggal di tempat si penjahit. Sang calon berniat akan mengambilnya besok. Si penjahit meminta keringanan dan berjanji akan menyelesaikannya tiga hari lagi.

Tiga hari berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya hari pernikahan, hari yang di nanti-nanti. Hari itu Muha bangun lebih cepat dan sebenarnya malam itu ia tidak tidur. Kegembiraan membuat matanya tak terpejam. Yaitu saat malam pengantin bersama seorang pemuda yang terbaik akhlaknya.

Si pemuda menelepon calon pengantinnya, Muha, memberitahukan bahwa setengah jam lagi ia akan pergi ke tempat penjahit untuk mengambil gaun tersebut agar ia dapat mencobanya dan lebih meyakinkan bahwa gaun itu pantas untuknya. Pemuda itu pergi ke tempat penjahit dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi terdorong perasaan bahagia dan gembira akan acara tersebut yang merupakan peristiwa terpenting dan paling berharga bagi dirinya, demikian juga halnya bagi diri Muha.

Karena meluncur dengan kecepatan tinggi, mobil tersebut keluar dari badan jalan dan terbalik berkali-kali. Setelah itu mobil ambulans datang dan melarikannya ke rumah sakit. Namun kehendak Allah berada di atas segalanya, beberapa saat kemudian si pemuda pun meninggal dunia. Sementara telepon si penjahit berdering menanyakan tentang pemuda itu. Si penjahit mengabarkan bahwa sampai sekarang ia belum juga sampai ke rumah padahal sudah sangat terlambat.

Akhirnya penjahit itu tiba di rumah calon pengantin wanita. Sekali pun begitu, pihak keluarga tidak mempermasalahkan sebab keterlambatannya membawa gaun itu. Mereka malah memintanya agar memberitahu si pemuda bahwa sakit Muha tiba-tiba kambuh dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tidak memberi Muha banyak kesempatan. Tadinya sakit tersebut seakan masih berbelas kasih kepadanya, tidak ingin Muha merasa sakit. Sekarang rasa sakit itu benar-benar membuat derita dan kesengsaraan yang melebihi penderitaan yang ia rasakan sepanjang hidupnya yang pendek.

Beberapa menit kemudian datang berita kematian si pemuda di rumah sakit dan setelah itu datang pula berita meninggalnya sang calon pengantinnya, Muha.

Demikian kesedihan yang menimpa dua remaja, bunga-bunga telah layu dan mati, burung-burung berkicau sedih dan duka terhadap mereka. Malam yang diangan-angankan akan menjadi paling indah dan berkesan itu, berubah menjadi malam kesedihan dan ratapan, malam pupusnya kegembiraan.

Kini gaun pengantin itu masih tergantung di depan toko penjahit. Tiada yang memakai dan selamanya tidak akan ada yang memakainya. Seakan gaun itu bercerita tentang kisah sedih Muha. Setiap yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, siapa pemiliknya.?