** Translate **

77. Saudagar Jerami - Merchant Straw

Once upon a time, there was a poor boy named Taro. It works for other people and live field mow master's house. One day, Taro went to the temple to pray.

"O, God of mercy! I have been working in earnest, but my life is not sufficient". "Help me to live happy".

Since then each finished work, Taro went to the temple. One night, a strange thing to wake Taro. Surrounding a luminous, then came the voice. "Taro, listen very carefully. Maintain a good thing the first time you get the next day. Was going to make you happy."
The next day when out of the gate of the temple, Taro plummeting. When he realized he was holding a straw. "Oh, so that meant God was the final straw, huh? What straw will bring happiness ...?", Think Taro.

Although somewhat disappointed with objects acquired Taro walked while carrying hay. On the way he captured and tied a large fly flew around the Taro straw. Flies are circling the straw that has been tied to a stick.

"That's interesting" said Taro. It was after the train that followed the guards. In the train, a child was sitting watching flies Taro. "I want that toy." A guard came over and asked for the toy Taro. "Please take", said Taro. The child's mother gave three orange as her gratitude to Taro.

"Well, a straw could be three citrus fruit," said Taro thought. When it continued on its way, seen a lady who was rested and very thirsty.

"Excuse me, is there any place near here springs?", Asked the woman.

"There temple, but the distance is still far away from here, if you are thirsty, I give you my orange," said Taro while giving oranges to her.

"Thanks, thanks to thee, I became healthy and fresh again." Please accept this as a woven fabric our gratitude," said the woman's husband.

With a feeling of joy, Taro walking while carrying cloth. Soon after, via a samurai with his horse. When close Taro, samurai horse fell and could not move anymore.

"Oh, but we're in a hurry."

The guards negotiate, what to do with the horse. Seeing the situation, Taro offered to take care of the horse. Instead Taro gave a roll of woven cloth that he got to the samurai guards. Taro take water from the river and immediately orally to the horse. Then, with great excitement, Taro brings healthy horse is carrying two rolls of cloth left.

When the day before the evening, Taro went to the house of a farmer to ask fodder for horses, and instead he gave a roll of fabric has. The farmer looked at the beautiful fabrics, and felt very happy. As a thank you entertain Taro farmers and invite dinner at her house. The next day, Taro farmers excused himself and went on a trip with his horse.

Suddenly, in front of a large house, the people seem very busy moving stuff.

"If there is a horse of course very useful," thought Taro.

Then taro into the yard and asked if they needed a horse. The owner of the house said, "That's a good horse. I wanted to, but I currently do not have any money. How if I replace it with my fields?".

"Well, the money that used to be run out, but when tilled fields will produce rice, please if you want to be exchanged," said Taro.

"Wise of you young. What if while I went to a distant country, you stay here to look after it?", asked the owner of the house.

"Well, thank you sir". Since then taro keeping house while working to clean the grass and the ricefields were acquired. When autumn comes, the rice harvest Taro very much.

The longer Taro richer. Because of his wealth came from a straw, he was given the nickname "Merchant Straw". The rich neighbors came to Taro and asked that their daughter be his wife by Taro. But finally, Taro married with a girl from the village where he was born. She worked diligently to help Taro. And they had a child that was funny. Time goes by, but The owner of the house never to return again. Thus, Taro lived happily with his family.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =  =

Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa.

"Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkecukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang".

Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara.

"Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia."
Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami.


"Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?", pikir Taro.

Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting.

"Wah menarik ya", ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal. Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro.

"Aku ingin mainan itu." Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu.

"Silahkan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro. 

"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati.

Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan.

"Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi.

"Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu.

"Terimakasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami," ujar suami wanita itu.

Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi.

"Aduh, padahal kita sedang terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu. Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa. 

Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilahkannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.
Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang.


"Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro.

Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,"Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang. Bagaimana kalau ku ganti dengan sawahku?".

"Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar", kata Taro.
"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?", tanya si pemilik rumah.


"Baik, Terima kasih Tuan". Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.

Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.