** Translate **

64. Sukreni Gadis Bali - A. A Pandji Tisna

Men Nagara from Karangasem, Bali. She left the area because of a problem with her husband. Buleleng is the destination. At first she boarded at the home of a pilgrim who has extensive land and gardens. However, because the Men Nagara hardworking and thrifty, she can then have its own garden.

When away from Karangasem, she left a son who was only eight months. In this place she later gave birth to a second daughter, named Ni Negeri and engaging coconut pickers workers who stop at her stall. In addition, Men Nagara was a good cook so cooking is always preferred by the worker.

Among those who came to the stall Men Nagara is I Gde Swamba, a coconut plantation owner. Not escape from it all, Ni Negeri and certainly did his mother, hopes that her daughter can lure I Gde Swamba become her husband.

At one point, the police came a minister named I Gusti Made Tusan to that area. As a police, he was respected and feared by the population. Many have succeeded crushed crime. This is thanks to its partnership with a spy named I Made Aseman. Lunch was about Men Nagara have to deal with I Gusti Made Made Aseman Aseman because I know that the Men Nagara been slaughtering pigs without a license from the authorities. I Made Aseman really hope that Men Nagara incarcerated in Singaraja fault it. If Men Nagara prison, the coconut pickers would move to stall law. However, what is expected I Made Aseman vain as his master, I Gusti Made Tusan been captivated by the words and smile Ni Negeri.

That afternoon, Ida Gde Swamba and coconut pickers were eating and drinking at the tavern Men Nagara. Unbeknownst to them, a girl named Luh Sukreni to stall Men Nagara. She is looking for I Gde Swamba inheritance dispute with her brother, I Sangia who have entered the Christian religion. According to the customs and religion of Bali, if a child switches of other religions, for him there is no right to receive the inheritance.

But the arrival of Luh Sukreni that just made Men Nagara and Ni Negeri envy, especially Sukreni prettier it asked Ida Gde Swamba. When the police minister seemed interested in Sukreni and intends to make the Ni Sukreni as his mistress, he sought a strategy that the Minister of Police wishes fulfilled.

In her second, Luh Sukreni again asked Ida Gde Swamba in shop Men Nagara. But the person she was looking for did not exist. With a friendly smile, mothers and children receive Luh Sukreni they even asked her to spend the night in her shop until Ida Gde Swamba arrived. Without prejudice, Luh Sukreni accept the offer. That's when Men Nagara run tactics evil. In the evening, Luh Sukreni raped by I Gusti Made Tusan. "Thank you Men Nagara, upon your help, it hardly worked but ...". So I Gusti Made Tusan expressed his pleasure over the Men Nagara rotten trick. Since the incident Luh Sukreni go somewhere.

Men Nagara was surprised when Ni Nagara, not with her I Sudiana companion Sukreni Luh, said Ni Sukreni is Men Nagara's own biological child. Ni Sukreni father, I Nyoman Raka had changed their name  Men Widi to Ni Sukreni. The name change was intended to Ni Sukreni not be known again by her mother. Men Nagara was very sorry that he had to sacrifice his own daughter.

Ni Sukreni not want to go back to her village. She was very embarrassed when the event was known by her father and the people in her village. She is wandering somewhere. However, Pan Gumiarning, a friend of her father, to accept Ni Sukreni to stay in her home. Soon. Ni Sukreni birth to a child from the evil deeds I Gusti Made Tusan. The child was given the name I Gustam.

Fate has determined Ni Sukreni to meet again Ida Gde Swamba. All that thanks to the help I Made Aseman which at that time was serving a sentence in Singaraja because have hit Ni Nagara until he was unconscious. Ida Gde Swamba promised to take care of and pay for her daughter.

I Gustam apparently grew harsh temperament and character. When he was twelve, he had dared to hit his head mother. As an adult, he also dared to steal to end up in police custody. In custody, I Gustam thus many lessons gained by robbing from I Sintung, one of the robbers and criminals who have known severe destructiveness, an expert in the robbery and crime.

Once out of prison, I Gustam form a group. I Sintung that while in prison as a teacher, his knees are now under the command I Gustam who did not hesitate to kill anyone who opposed his orders.

One night, a group headed I Gustam implement robbery in the Men Nagara shop. But the plan was already known by the security forces. Robbery at Men Nagara get resistance from the police, led by I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan itself does not recognize that the enemy at hand is his own son. So when I Gustam almost hopeless because of a saber father, I Gusti Made Tusan learned that the murdered man was his own son, after he heard the screams I Made Aseman. Eventually father and son rose and fell dead!.



= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Men Nagara berasal dari Karangasem, Bali. Ia meninggalkan daerah itu karena suatu persoalan dengan suaminya. Buleleng adalah tempat tujuannya. Mula-mula ia menumpang di rumah seorang haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Nagara rajin bekerja dan hemat, ia kemudian dapat memiliki kebun sendiri.

Ketika pergi dari Karangasem, ia meninggalkan seorang anak yang baru berusia delapan bulan. Di tempat ini ia kemudian melahirkan anak kedua yang diberi nama Ni Negeri yang berparas cantik dan dapat menarik hati para pekerja pemetik kelapa yang singgah di warungnya. Disamping itu, Men Nagara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu.

Diantara mereka yang datang ke warung Men Nagara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. Tak luput dari semua itu, Ni Negeri dan sudah tentu pula ibunya, mengharapkan agar anak gadisnya itu dapat memikat I Gde Swamba menjadi suaminya. 

Suatu ketika, datanglah seorang menteri polisi bernama I Gusti Made Tusan ke daerah itu. Sebagai manteri polisi, ia disegani dan ditakuti penduduk. Banyak sudah kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Ini berkat kerjasamanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Siang itu hampir saja Men Nagara harus berurusan dengan I Gusti Made Aseman karena I Made Aseman mengetahui bahwa Men Nagara telah memotong babi tanpa surat izin dari yang berwenang. I Made Aseman sangat berharap agar Men Nagara dipenjarakan di Singaraja karena kesalahannya itu. Jika Men Nagara masuk penjara, para pemetik kelapa akan pindah ke warung iparnya. Namun, apa yang diharapkan I Made Aseman sia-sia belaka karena tuannya, I Gusti Made Tusan telah terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negeri.

Siang itu, Ida Gde Swamba dan para pemetik kelapa sedang makan dan minum di warung Men. Tanpa sepengetahuan mereka, datang seorang gadis bernama Luh Sukreni ke warung Men Nagara. Ia mencari I Gde Swamba untuk urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangia yang telah masuk agama kristen. Menurut adat dan agama Bali, jika seorang anak beralih agama lain, baginya tak ada hak untuk menerima harta warisan.

Namun kedatangan Luh Sukreni itu justru membuat Men Nagara dan Ni Negeri iri hati, apalagi Sukreni yang lebih cantik itu menanyakan Ida Gde Swamba. Ketika Menteri polisi itu tampak tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukreni sebagai wanita simpanannya, dicarinyalah siasat agar keinginan Menteri Polisi terpenuhi.

Pada kedatangannya yang kedua, Luh Sukreni kembali menanyakan Ida Gde Swamba di warung Men Negara. Namun orang yang dicarinya tak ada. Dengan ramah dan senyum manis, ibu dan anak menerima Luh Sukreni bahkan mereka memintanya untuk bermalam di warungnya sampai Ida Gde Swamba tiba. Tanpa prasangka buruk, Luh Sukreni menerima tawaran itu. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Luh Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu, hampir-hampir tak berhasil tetapi…”. Begitulah I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana. 

Alangkah terkejutnya Men Negara ketika Ni Negara, anaknya yang tidak bersama I Sudiana teman seperjalanan Luh Sukreni, mengatakan bahwa Ni Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Ni Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Ni Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Ni Sukreni tak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Men Negara sangat menyesal karena ia telah mengorbankan anaknya sendiri.

Ni Sukreni tak mau kembali ke kampungnya. Ia sangat malu apabila kejadian itu diketahui oleh ayahnya dan orang-orang di kampungnya. Ia mengembara entah kemana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Ni Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian. Ni Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam. 

Takdir telah menentukan Ni Sukreni dapat bertemu kembali Ida Gde Swamba. Semua itu berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja karena telah memukul I Negara sampai tak sadarkan diri. Ida Gde Swamba berjanji akan mengurus dan membiayai anaknya itu.

I Gustam ternyata tumbuh dengan perangai dan tabiat yang kasar. Sewaktu berusia dua belas tahun, ia sudah berani memukul kepala ibunya. Setelah dewasa, ia berani pula mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Didalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan. 

Setelah keluar dari penjara, I Gustam membentuk sebuah kelompok. I Sintung yang ketika di dalam penjara sebagai gurunya, kini bertekuk lutut di bawah perintah I Gustam yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang menentang perintahnya.

Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun rencana itu sudah diketahui oleh aparat keamanan. Perampokan di Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan sendiri tidak mengenal bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka ketika I Gustam hampir putus asa karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya ayah dan anak itupun tersungkur dan mati!.