** Translate **

51. Nyai Dasima - G. Francis

The story is well-known from Betawi, recounts the tragic life of Nyai Dasima. The story begins with the story of the life of Edward William and his wife were named Bonnet. William was the merchants of England, which in the VOC, manage the tea plantations in the waterfall.

Happiness Mr. and Mrs. William Bonnet complete when it comes a 12-year-old girl from a village named Dasima Kuripan.

In the next story stated that William Bonnet sick wife. Dasima as maid who once was considered family own, with diligent care. But William and Dasima proximity to others. When Bonnet did not recover as well, along with that loneliness has lashed lord William, the night, when his wife lay helpless, the embarrassing incident was inevitable. William succeeded in screwing Dasima.

Pain Bonnet increasingly helpless. But before she died, she told her husband William, to marry Dasima. For Dasima is a good girl.

When his wife died, some time later they were married. The marriage produced a daughter named Nancy. Families were initially happy, the one when he moved to Batavia. William habit who likes to invite her friends to partying and eating, fruitful problems, because the conversation between William female friends, they assume that Dasima inappropriate content aligned with their group. Hearing such scorn friend William, initially did not make Dasima thrilled, but eventually also Dasima feel such inner torment.

In other parts also told Bang Samiun, coachman gig whose work frequently while Nancy shuttle to school or just a walk. Bang Samiun and Dasima eventually like to go together. For no apparent reason had no more power to endure, because scorn friends William, eventually divorced Dasima requested by William. Of course William objection, but because Dasima kept pushing. Finally Dasima request was granted by William. While their property was divided, while Nancy, his son handed over to William.

Since the divorce, moving home Dasima Bang Samiun. While Bang Samiun married Hayati. Samiun also still have a mother named Wak Soleha. With a variety of ways, finally managed to marry Dasima told Samiun.

Since marriage with Bang Samiun, Dasima life miserable. Dasima everyday treated as servants. Various methods are used Wak Soleha and Conservation in order Dasima suffer. Because no more power to suffer and eventually Dasima Samiun fight.

Once Samiun, Biological and Wak Soleha, plans to hire to kill Dasima Bang Puase, in the middle of the journey by riding gig. They were intercepted on the way. Finally Dasima killed by Bang Pause. Dasima corpse discovered river by Mr. William and Nancy's son. Both are sad to see their loved ones have left them forever.


Kisah yang terkenal dari Betawi ini, menceritakan secara tragis kehidupan Nyai Dasima. Kisah diawali dengan kisah kehidupan Edward William dan istrinya yang bernama Bonnet. William adalah saudagar dari Inggris, yang pada masa VOC, mengelola perkebunan teh di daerah Curug.
 
Kebahagiaan Tuan William serta Nyonya Bonnet lengkap ketika datang seorang gadis berusia 12 tahun dari kampong Kuripan yang bernama Dasima.
 
Pada kisah berikutnya dikemukakan bahwa Bonnet Istri William sakit. Dasima sebagai pembantu yang sekaligus sudah dianggap keluarga sendiri, dengan rajin merawatnya. Namun kedekatan William dan Dasima menjadi lain. Ketika Bonnet tidak sembuh juga, bersamaan dengan itu kesepian telah mendera tuan William, maka malam itu, ketika Istrinya terbaring tak berdaya, kejadian yang memalukan itu tak dapat dielakkan. William berhasil meniduri Dasima.
 
Sakit Bonnet semakin tak tertolong. Namun sebelum meninggal dunia, Dia berpesan pada William suaminya, agar mengawini Dasima. Sebab Dasima adalah gadis yang baik.
 
Ketika istrinya meninggal, beberapa lama kemudian mereka menikah. Pernikahan tersebut membuahkan seorang anak perempuan bernama Nancy. Keluarga yang awalnya berbahagia ini, suatu ketika pindah ke Batavia. Kebiasaan William yang suka mengundang teman-temannya untuk berpesta dan makan-makan, berbuah masalah, sebab diantara pembicaraan teman wanita William, mereka menganggap bahwa Dasima tidak pantas disejajarkan dengan kelompok mereka. Mendengar cemoohan teman William yang demikian, awalnya tidak membuat Dasima tergetar, namun lama-kelamaan Dasima merasakan juga siksaan batin tersebut.
 
Pada bagian lain dikisahkan juga tentang Bang Samiun, kusir dokar yang pekerjaannya sering antar jemput Nancy saat kesekolah atau sekedar jalan-jalan. Bang Samiun dan Dasima akhirnya suka pergi bersama-sama. Tanpa sebab yang jelas dengan alasan tidak kuat lagi menanggung derita, karena cemoohan teman-teman William, akhirnya Dasima minta dicerai oleh William. Tentu saja William keberatan, tetapi karena Dasima terus mendesak. Akhirnya permintaan Dasima pun dikabulkan oleh William. Sementara harta mereka dibagi dua, sedangkan Nancy, anaknya diserahkan pada William.
 
Sejak perceraian tersebut, Dasima pindah kerumah Bang Samiun. Sementara Bang Samiun sudah beristri Hayati. Samiun juga masih mempunyai seorang ibu bernama Wak Soleha. Dengan berbagai macam cara, akhirnya dikisahkan Samiun berhasil menikahi Dasima.

Sejak berumah tangga dengan Bang Samiun, kehidupan Dasima semakin sengsara. Sehari-hari Dasima diperlakukan sebagai pembantu. Berbagai macam cara dilakukan Wak Soleha dan Hayati dengan tujuan agar Dasima menderita. Karena tidak kuat lagi menderita akhirnya Dasima dan Samiun bertengkar hebat.
 
Suatu ketika Samiun, Hayati dan Wak Soleha, merencanakan membunuh Dasima dengan menyewa Bang Puase, di tengah perjalanan dengan mengendarai dokar. Mereka dihadang di tengah jalan. Akhirnya Dasima dibunuh oleh Bang Pause. Mayat Dasima ditemukan disungai oleh Tuan William dan Nancy anaknya. Keduanya sedih melihat orang yang dicintainya telah meninggalkan mereka untuk selamanya.



Dalam cetak ulang Nyai Dasima ini dinyatakan bahwa pengarangnya adalah G. Francis dan penerbitnya adalah Kho Tjeng Bie & Co. Namun buku berjudul lengkap Tjerita Njai Dasima : Soewatoe Korban daripada Pemboedjoek, nama G. Francis tertera hanya sebagai "jang mengeloewarken". Sementara, nama penerbit Kho Tjeng Bie & Co. tidak ada. Tidak mengherankan jika W.V. Sykorsky dalam tulisannya berjudul "Some Additional Remarks on Antecedents of Modern Indonesian Literature" (BKI, 1980) me-ragukan sosok G. Francis sebagai penulis Nyai Dasima. Kendati demikian, tetap banyak yang meyakini bahwa G. Francis adalah pengarang yang mungkin sekaligus penerbit, sebab akhir abad ke-19 itu sudah dikenal luas adanya toko buku G. Francis, berlokasi di "Molenvliet (Kebon Djeroek) 10/63, Batavia".
  • Setahun setelah terbitnya Tjerita Njai Dasima, prosa ini mengalami transformasi menjadi syair yang ditulis O.S. Tjiang. Pengarang ini mengaku bahwa Nyai Dasima yang terbit tahun 1896 itu adalah babon syairnya. Beberapa tahun kemudian, Nyai Dasima yang berupa syair ini ditulis ulang oleh Akhmad Beramka yang menurut dugaan telah menyalinnya antara tahun 1906-1909. Demikian pula dengan Lie Kim Hok, telah menerbitkan syair ini yang selengkapnya berbunyi Sjair Tjerita di Tempo Tahon 1813, Soeda Kadjadian di Betawi, Terpoengoet dari Boekoenja Njai Dasima, sampai mengalami cetakan keenam (1922). Bahkan orang yang hanya memahami bahasa Belanda pun dapat menikmati kisah ini lewat karya A. Th. Manusama dengan judul Nyai Dasima: Het Slachtoffer vanbedrog en misleiding, een historische zeden roman van Batavia (1926).