** Translate **

49. Pertemuan Dua Hati - NH Dini

Mrs. Suci was an elementary school teacher and almost 10 years of teaching in Purwodadi. She lives with her husband, 3 children and her aunt. Her husband works as a mechanic at a company in her hometown.

A few months ago her husband moved to Semarang, precisely in the area Mrican. 

When get to the new school in Semarang, she accompanied her children to school. She also introduced herself to the principal. As the parents as well as teachers are awaiting appointment, the Principal also gave offers to teach at the school.

One day her second child had a fever, cough and colds. Mrs. Suci took her to the GP. After a few days, at tumbuhi skin rashes and itchy. After several days of cough, colds and spots were gone, now her son is a headache. Mrs. Suci took her to the doctor the company. Doctors gave him medication and advised to be taken to hospital.

After five days, the child is healthy and able to go to school anymore. Her husband delivered the papers family medical examination. According to the company doctor to her second child should be brought to the doctor nerve / neurologist. For days the Mrs. Suci and son fro the hospital to undergo a series of examinations son. As a result, it turns out his son suffers from epilepsy / seizures / epilepsy.

The first day of Mrs. Suci introduce themselves to the students and student attendance roll. That day there were 3 children who do not attend, one of which is Waskito. After four days of teaching, Waskito not yet entered. Mrs. Suci asked her students about the absence Waskito. But from her students, she learns that his friends do not like Waskito. According to the teachers who taught the class, they think Waskito a difficult student. Anger and calmness driven by the liver that lack of attention from his family.

Mrs. Suci sent a letter to Grandma Waksito. Predetermined afternoon, the Mrs. Suci visited Grandma Waksito. From her grandmother she gained a lot of information about Waksito. That Waksito been beaten by his father because he was absent. During his stay at home parents he never reprimanded, told what is good and bad. But as long as 1.5 years old stay at home grandmother, Waskito being nice, polite, often doing homework, attending school regularly. The result Waskito a normal student. Report cards show progress. However, his parents took it back.

Mrs. Suci visited Grandma Waskito for the second time. His grandmother told me that now lives with his aunt. One day Waskito school. Day of the Mrs. Suci was asked some students to move the seat. She also asked Waskito to be moved but Waskito not.

One day schools conduct lessons to the field. Teachers and students visited a food factory. Visible, active Waskito asked about food making machine.

Mrs. Suci to form groups in class. Each group was given the task to make the vessel in touch. Apparently the work of the most perfect Waskito.

Mrs. Suci gave the task to make the zoo. The work group Waskito most good. During the three-month state of calm. Waskito not make any trouble. At the break Waskito rampage. The teachers suggested that Waskito expelled from school. Mrs. Suci retain students. She asked for a month to the school. Principal was granted her request.

Since the incident, the Mrs. Suci breaks more often in class. Mrs. Suci would often chat with Waskito. Bu Sacred feel closer to these students. In the next report card contains normal numbers. Waskito never screw up like he did the other day. Mrs. Suci had kept her promise sacred, Waskito follow his heart's in Purwodadi fishing with family Mrs. Suci. At the end of the school year, Waskito grade. His aunt came to the school to thank the principal, the teachers, especially the Mrs. Suci. Top tenacity, Waskito become better students than usual.


Bu Suci adalah seorang guru SD dan hampir 10 th mengajar di Purwodadi. Dia tinggal bersama suami, 3 orang anaknya dan uwaknya. Suaminya bekerja sebagai montir di sebuah perusahaan di kotanya.
Beberapa bulan lalu suaminya pindah ke Semarang, tepatnya di daerah Mrican.

Saat masuk ke sekolah baru di Semarang, ia menemani anak-anaknya ke sekolah. Dia juga memperkenalkan diri kepada Kepala Sekolah. Sebagai orang tua murid juga sebagai guru yang menunggu pengangkatan, Kepala Sekolah pun memberi penawaran untuk mengajar di sekolah tersebut. 

Pada suatu hari anak keduanya sakit panas, batuk dan selesma. Bu Suci membawanya ke dokter umum. Setelah beberapa hari, kulitnya di tumbuhi bintik-bintik merah dan terasa gatal. Setelah beberapa hari batuk, selesma dan bintik-bintik itu hilang, kini anaknya tersebut merasa sakit kepala. Bu Suci membawanya ke dokter perusahaan. Dokter memberinya obat dan menyarankan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Setelah lima hari, anak tersebut sehat dan bisa masuk sekolah lagi. Suaminya menyampaikan kertas-kertas hasil pemeriksaan kesehatan keluarganya. Menurut dokter perusahaan anak keduanya harus dibawa ke dokter syaraf/neurolog. Berhari-hari Bu Suci dan anaknya mondar-mandir rumah sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan anaknya. Hasilnya, ternyata anaknya menderita penyakit ayan/ sawan/ epilepsi.

Hari pertama Bu Suci memperkenalkan diri kepada murid-muridnya dan mengabsen kehadiran muridnya. Hari itu ada 3 anak yang tidak hadir, salah satunya adalah Waskito. Setelah empat hari mengajar, Waskito belum juga masuk. Bu Suci menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketidakhadiran Waskito. Namun dari murid-muridnya, dia mengetahui bahwa teman-temannya tidak menyukai Waskito. Menurut guru-guru yang pernah mengajar kelas tersebut, mereka menganggap Waskito sebagai murid yang sukar. Kemarahan dan ketenangannya didorong oleh hati yang kekurangan perhatian dari keluarganya.

Bu Suci mengirim surat kepada Nenek Waksito. Sore hari yang telah ditentukan, Bu Suci mengunjungi rumah Nenek Waksito. Dari Neneknya dia memperoleh banyak informasi tentang Waksito. Bahwa Waksito pernah dipukul oleh ayahnya karena dia membolos. Selama berada dirumah orangtuanya dia tidak pernah ditegur, diberi tahu mana yang baik dan buruk. Tetapi selama tinggal 1,5 th dirumah Neneknya, Waskito bersikap manis, sopan, sering mengerjakan tugas rumah, masuk sekolah secara teratur. Hasilnya Waskito menjadi murid yang normal. Raportnya menunjukan kemajuan. Namun, orang tuanya mengambilnya kembali.

Bu Suci mengunjungi Nenek Waskito untuk kedua kalinya. Neneknya menceritakan bahwa kini Waskito tinggal bersama Budenya. Pada suatu hari Waskito masuk  sekolah. Dihari itu Bu Suci meminta beberapa orang siswanya untuk berpindah tempat duduk. Ia juga meminta Waskito untuk pindah namun Waskito tidak mau.

Suatu hari sekolah melaksanakan pelajaran turun ke lapangan. Guru-guru dan murid-murid  mengunjungi pabrik makanan. Terlihat, Waskito aktif bertanya tentang mesin pembuat makanan.

Bu Suci membentuk kelompok-kelompok di kelasnya. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat bejana berhubungan. Ternyata hasil karya kelompok Waskito yang paling sempurna.

Bu Suci memberikan tugas kelompok membuat kebun binatang. Karya kelompok Waskito yang paling bagus. Selama tiga bulan keadaan tenang. Waskito tidak membuat onar. Pada waktu istirahat Waskito mengamuk. Guru-guru mengusulkan agar Waskito dikeluarkan dari sekolah. Bu Suci mempertahankan muridnya tersebut. Dia meminta waktu satu bulan kepada sekolah. Kepala Sekolah pun mengabulkan permintaannya.

Sejak kejadian itu, pada waktu istirahat Bu Suci lebih sering berada dikelas. Bu Suci pun sering mengobrol dengan Waskito. Bu Suci merasa lebih dekat dengan muridnya tersebut. Pada raport berikutnya berisi angka-angka normal. Waskito tidak pernah mengacau seperti yang dilakukannya tempo hari. Bu suci pun menepati janjinya, Waskito ikut memancing sepuas hatinya di Purwodadi bersama keluarga Bu Suci. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Budenya datang ke sekolah berterima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru terutama kepada Bu Suci. Atas keuletannya, Waskito menjadi murid yang lebih dari biasa.

Judul : Pertemuan Dua Hati
Pengarang : NH Dini
Lahir : Semarang, 29 Februari 1936








Riwayat Pengarang : 

Nama Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Nh. Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.
  • Dini bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun, ia tidak dapat mewujudkan cita-cita itu karena orang tuanya tidak mampu membiayainya. Ia hanya dapat mencapai pendidikannya sampai sekolah menengah atas jurusan sastra. Ia mengikuti kursus B1 jurusan sejarah (1957). Di samping itu, ia menambah pengetahuan bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan. Meskipun demikian, ia lebih berkonsentrasi pada kegiatan menulis. Hasil karyanya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.
Kegiatan lain yang dilakukannya adalah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya. Kegiatannya adalah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).
  • Pada tahun 1960 Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis yang bernama Yves Coffin. Ia mengikuti tugas suaminya di Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Karena bersuamikan orang Prancis, Dini beralih warga negaranya menjadi warga negara Prancis. Dari perkawinannya itu Dini mempunyai dua orang anak, yaitu Marie Claire Lintang dan Louis Padang. Terhadap kedua anaknya itu, Dini memeberi kebebasan budaya yang akan dianut dan bahasa yang akan dipelajari. Untuk mengajarkan budaya Indonesia, Dini menyuruh anaknya mendengarkan musik Indonesia, terutama gamelan Jawa, Bali, dan Sunda serta melatihnya menari.
Pada tahun 1984 Dini bercerai dengan suaminya. Pada tahun 1985 kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan menulis serta mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Pondok Baca N.H. Dini yang beralamat di Perumahan Beringin Indah, jalan Angsana No. 9, Blok A-V Ngalian, Semarang 50159, Jawa Tengah.
Pengalaman menjadi istri diplomat memperkaya pengetahuannya sehingga banyak mempengaruhi karya-karyanya, seperti karyanya yang berlatar kehidupan Jepang, Eropa, dan Amerika.