** Translate **

48. Namaku Hiroko - NH Dini

My name is Hiroko tells about the struggle of an innocent Japanese girl who came from the village, and then try her luck in the city.

Hiroko, who was supposed to be a girl's name, made by the owner's name. Hiroko life in the village and keep all customs because she felt that she had to do.

Once when her father offered a middleman hired Hiroko as a housemaid in the city. Since then her life changed. She saw women habits in the city, aides conversation, until then have to go back to help her father in the village. Hiroko sick sister and stepmother pregnant again.

Tomiko, a friend Hiroko jaunty and look stunning, convinced her father to allow Hiroko to the city and work again.

Living alone in the city in a very young age, it is not easy for Hiroko. While still early life in the city, Hiroko worked as a housekeeper. Then, gradually she became a clerk in the day, as well as serving as a stripper at a club in Japan, in the evening. Hiroko got to know the man and adult intimate relationships. Even the innocent country girl who originally turned into an ambitious and vain woman.

Not only the vagaries of job she faced, but also about love. When she was a domestic servant, Hiroko ever loved a boy who is younger mistress. Innocently, she loved the man, who was only a brief stop Hiroko life. Over time, Hiroko finally able to forget him.

Harsh demands of life, and a job as a stripper, making Hiroko getting radiated charm. She not only more beautiful, but also more intelligent thanks to the forging of her life experiences.

In a subsequent love affair, Hiroko was dating Suprapto, an Indonesian student who went to school in Japan, however, the relationship foundered, due to differences in customs and cultures that are difficult for both of them put together.

Bitter sweet life, making Hiroko more 'capable' and tough. She still rising despite facing many obstacles and difficulties in realizing its goals. Hiroko desire to get any success in life, make it justifies all means do not steal home. On that basis Hiroko also a cabaret dancer in a nightclub. Beauty and her beauty, made a fortune for Hiroko to become famous. She was paid quite handsomely for each show.

Her work as a stripper does not make Hiroko closely related to many men, although many men who want her. Deep in her heart, Hiroko still want a true love, from a man who sincerely loves her.

In a dance performance met Hiroko Yoshida, a businessman famous ship in the city of Kobe. Yoshida is so crazy so any willingness Hiroko Hiroko always fulfilled. However, their relationship is hampered by turns Natsuko Yoshida was the husband of her best friend. Finally, only makes Hiroko Yoshida as a mistress without clear status wives, but she was quite satisfied and happy with her life is.



Namaku Hiroko ini menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan Jepang polos yang berasal dari desa, kemudian mengadu nasib di kota.
 
Hiroko, yang seharusnya menjadi nama belakang seorang gadis, dijadikan nama depan oleh si empunya. Hiroko menjalani kehidupan di desa dan mematuhi segala adat karena merasa itulah yang harus dilakukannya.

Suatu ketika seorang tengkulak menawari sang ayah mempekerjakan Hiroko sebagai pembantu rumah tangga di kota. Sejak itu hidupnya berubah. Ia melihat kebiasaan wanita-wanita di kota, perbincangan para pembantu, sampai kemudian harus kembali membantu ayahnya di desa. Adik Hiroko sakit dan ibu tirinya hamil lagi.
Tomiko, teman Hiroko yang pandai bergaul dan tampil mempesona, berhasil meyakinkan ayahnya untuk mengizinkan Hiroko ke kota dan bekerja lagi.

Hidup sendirian di kota dalam usia yang masih sangat muda, tidaklah mudah bagi Hiroko. Ketika masih awal hidup di kota, Hiroko bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Kemudian, secara bertahap ia menjadi seorang pelayan toko pada siang hari, serta merangkap sebagai penari striptease di sebuah klab di Jepang, pada malam harinya. Hiroko mulai mengenal pria dan hubungan intim orang dewasa. Bahkan gadis desa yang semula polos ini berubah menjadi wanita ambisius dan mementingkan penampilan.
Tak hanya liku- liku perkerjaan yang ia hadapi, namun juga soal cinta. Saat masih menjadi pembantu rumah tangga, Hiroko pernah mencintai seorang pemuda yang merupakan adik majikannya. Dengan polosnya, ia mencintai laki- laki tersebut, yang ternyata hanya singgah sebentar dalam kehidupan Hiroko. Seiring berjalannya waktu, Hiroko akhirnya dapat melupakan laki- laki itu.

Tuntutan hidup yang keras, serta pekerjaan sebagai penari striptease, membuat pesona Hiroko semakin terpancar. Ia tidak saja bertambah cantik, namun juga semakin cerdas berkat tempaan pengalaman hidupnya.
 
Dalam urusan cinta selanjutnya, Hiroko sempat berpacaran dengan Suprapto, seorang mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Jepang, namun, hubungan tersebut kandas, karena perbedaan adat dan budaya mereka berdua yang sulit untuk disatukan.
Pahit manisnya hidup, membuat Hiroko semakin ‘capable’ dan tangguh. Ia tetap bangkit meskipun menghadapi banyak rintangan dan kesulitan dalam mewujudkan cita- citanya. Keinginan Hiroko untuk mendapatkan segala kesuksesan hidup, menjadikannya menghalalkan segala cara asal tidak mencuri. Atas dasar itu pula Hiroko menjadi penari kabaret di sebuah klub malam. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya, membuat keberuntungan bagi Hiroko sehingga menjadi terkenal. Ia dibayar cukup mahal untuk setiap pertunjukannya.


Pekerjaannya sebagai penari striptease tidak lantas membuat Hiroko berhubungan dekat dengan banyak lelaki, meski banyak lelaki yang menginginkan dirinya. Jauh dilubuk hatinya, Hiroko masih menginginkan sebuah cinta sejati, dari seorang laki- laki yang tulus mencintai dirinya.
Dalam suatu pertunjukan tarinya Hiroko berkenalan dengan Yoshida, seorang pengusaha kapal terkenal di kota Kobe. Yoshida begitu tergila-gila pada Hiroko sehingga apapun kemauan Hiroko selalu dipenuhinya. Akan tetapi, hubungan mereka terhalang karena ternyata Yoshida adalah suami dari Natsuko sahabat sejatinya. Akhirnya, Yoshida hanya menjadikan Hiroko sebagai wanita simpanan saja tanpa kejelasan status istri yang sah, namun ia cukup puas dan bahagia dengan kehidupannya tersebut.
 

Judul : Namaku Hiroko
Pengarang : NH Dini
Lahir : Semarang, 29 Februari 1936








Riwayat Pengarang : 

Nama Nh. Dini merupakan singkatan dari Nurhayati Srihardini. Nh. Dini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah. Bakat menulisnya tampak sejak berusia sembilan tahun. Pada usia itu ia telah menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”. Tulisan itu dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.
  • Dini bercita-cita menjadi dokter hewan. Namun, ia tidak dapat mewujudkan cita-cita itu karena orang tuanya tidak mampu membiayainya. Ia hanya dapat mencapai pendidikannya sampai sekolah menengah atas jurusan sastra. Ia mengikuti kursus B1 jurusan sejarah (1957). Di samping itu, ia menambah pengetahuan bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan. Meskipun demikian, ia lebih berkonsentrasi pada kegiatan menulis. Hasil karyanya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.
Kegiatan lain yang dilakukannya adalah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya. Kegiatannya adalah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).
  • Pada tahun 1960 Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis yang bernama Yves Coffin. Ia mengikuti tugas suaminya di Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Karena bersuamikan orang Prancis, Dini beralih warga negaranya menjadi warga negara Prancis. Dari perkawinannya itu Dini mempunyai dua orang anak, yaitu Marie Claire Lintang dan Louis Padang. Terhadap kedua anaknya itu, Dini memeberi kebebasan budaya yang akan dianut dan bahasa yang akan dipelajari. Untuk mengajarkan budaya Indonesia, Dini menyuruh anaknya mendengarkan musik Indonesia, terutama gamelan Jawa, Bali, dan Sunda serta melatihnya menari.
Pada tahun 1984 Dini bercerai dengan suaminya. Pada tahun 1985 kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan menulis serta mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Pondok Baca N.H. Dini yang beralamat di Perumahan Beringin Indah, jalan Angsana No. 9, Blok A-V Ngalian, Semarang 50159, Jawa Tengah.
Pengalaman menjadi istri diplomat memperkaya pengetahuannya sehingga banyak mempengaruhi karya-karyanya, seperti karyanya yang berlatar kehidupan Jepang, Eropa, dan Amerika.