** Translate **

46. Salah Asuhan - Abdoel Moeis

Hanafi sent his mother to Batavia to attend HBS (Hoogere Burger School). Although his mother was a widow, she wanted her son to be smart. Because of that, he intends to send Hanafi as high. Cost issues, she strives to always meet even have to ask for assistance to her uncle, Sutan Batuah.

While in Batavia, Hanafi deposited in Dutch family, so he was educated in the Netherlands every day and hang out with the Dutch.

After graduating HBS Hanafi association can not be separated from the European ones. This is because he works in the office of the assistant resident in Solok. He was very proud to be the Dutch even though he was an original natives. His lifestyle is very westernized. In fact, sometimes exceeding the actual western.

During the mix with the Europeans, Hanafi fall in love with one girl named Corrie Europe. Corrie was a girl of French Indo-Dutch. The two indeed familiar. They like talking to each other. Corrie want to hang out with Hanafi just friends because they often met. However, the Hanafi, the friendship was another meaning, he felt that Corrie could love him the way he felt. When Hanafi suggests his heart, Corrie refused subtly. Corrie was not possible to establish a relationship with Hanafi because of cultural differences between them. Corrie is Eurasian, while Hanafi natives. However, it seems Hanafi did not understand the denial.

To avoid Hanafi, Corrie moved to Batavia. In Batavia, she reiterated the Hanafi about their relationship through letters. She asked Hanafi to forget her. Receiving the letter, Hanafi was devastated and fell ill. During the illness, many Hanafi getting advice from his mother. His mother persuaded him to marry her mother's native options, Rapiah.

Marriage is not based on feelings of love that makes a family Hanafi-Rapiah is never peaceful. Hanafi often hurt Rapiah, angry, because just swore swearing-trivial problem. However, Rapiah never fight Hanafi and all treatments received with resignation. It wowed the mother-in-law.

One day, Hanafi bitten by a mad dog. He had to go to Batavia. In Batavia, he met with Corrie, the girl who always missed. Hanafi strive to obtain Corrie. He immediately took care of the paperwork for obtaining rights as the Dutch. After the letters were finished, he begged Corrie to be willing to get engaged with him. Because of pity to Hanafi, Corrie reluctantly accept requests Hanafi. Corrie knew that the engagement would make her shunned by its European friends.

Engagement party was held at the home of a Dutch friend Corrie. The host was not so friendly welcome their engagement. He does not like to see and hang out with the Dutch brown-skinned. However, the engagement was still carried out in an atmosphere of bland.


Meanwhile, Rapiah and her mother still awaiting the arrival of Hanafi in her village, even though they knew that the Hanafi be married to Corrie. Although abandoned her husband, Rapiah still living with in-laws. It was at the request of the mother Hanafi. She loves Rapiah than her affection to the Hanafi. She marveled at the patience and loyalty Rapiah their son. Though treatment for Rapiah Hanafi very outrageous, but Rapiah always forgive him.

Meanwhile, household Hanafi and Corrie was not as they expected. Whit no tranquility and peace that they had previously expected. Their families are shunned by their own friends. Both are living in conditions that are confusing. The Europeans did not recognize them. Similarly, people do not admit it because Hanafi pride and arrogance Hanafi.


Hanafi dikirim ibunya ke Betawi untuk bersekolah di HBS (Hoogere Burger School). Walaupun ibu Hanafi hanyalah seorang janda, dia menginginkan anaknya menjadi orang pandai. Karena itu, ia bermaksud menyekolahkan Hanafi setinggi-tingginya. Masalah biaya, dia berusaha keras untuk selalu memenuhinya walaupun harus meminta bantuan kepada mamaknya, Sutan Batuah.
 
Selama di Betawi, Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda, sehingga dia setiap hari dididik secara Belanda dan bergaul dengan orang-orang Belanda.


Pergaulan Hanafi setamat HBS juga tidak terlepas dari lingkungan orang-orang Eropa. Hal ini karena dia bekerja di kantor asisten residen di Solok. Dia sangat bangga menjadi orang Belanda walaupun sebenarnya dia seorang pribumi asli. Gaya hidupnya sangat kebarat-baratan. Bahkan, terkadang melebihi orang barat yang sebenarnya.
 

Selama bergaul dengan orang-orang Eropa, Hanafi jatuh hati pada salah seorang gadis Eropa bernama Corrie. Corrie adalah seorang gadis indo Perancis-Belanda. Hubungan keduanya memang akrab. Mereka suka mengobrol berdua. Corrie mau bergaul dengan Hanafi hanya sebatas teman karena mereka sering bertemu. Namun, bagi Hanafi, hubungan pertemanan itu diartikan lain, dia merasa bahwa Corrie pun mencintai dirinya seperti yang ia rasakan. Ketika Hanafi mengemukakan isi hatinya, Corrie menolak secara halus. Corrie merasa tidak mungkin menjalin hubungan dengan Hanafi karena perbedaan budaya di antara mereka. Corrie adalah peranakan Eropa, sedangkan Hanafi orang pribumi. Namun, tampaknya Hanafi tidak mengerti penolakan itu.

Untuk menghindari Hanafi, Corrie pindah ke Betawi. Di Betawi, dia menegaskan kembali kepada Hanafi mengenai hubungan mereka melalui surat. Dia meminta Hanafi untuk melupakan dirinya. Menerima surat tersebut, Hanafi sangat terpukul dan jatuh sakit. Selama sakit, Hanafi banyak mendapatkan nasehat dari ibunya. Ibunya membujuknya untuk menikahi wanita pribumi pilihan ibunya, Rapiah.
 

Perkawinan yang tidak didasari perasaan cinta itu membuat keluarga Hanafi-Rapiah tidak pernah tenteram. Hanafi sering menyakiti hati Rapiah, marah-marah, dan memaki-makinya hanya karena persoalan sepele. Namun, Rapiah tak pernah melawan dan semua perlakuan Hanafi diterimanya dengan pasrah. Hal itu membuat kagum ibu mertuanya.
 

Pada suatu hari, Hanafi digigit anjing gila. Dia harus berobat ke Betawi. Di Betawi, dia bertemu dengan Corrie, gadis yang selalu dirindukannya. Hanafi berusaha keras untuk memperoleh Corrie. Dia segera mengurus surat-surat untuk memperoleh hak sebagai orang Belanda. Setelah surat-surat tersebut selesai, dia memohon Corrie agar bersedia bertunangan dengannya. Karena rasa ibanya kepada Hanafi, dengan berat hati Corrie menerima permintaan Hanafi. Corrie tahu, bahwa pertunangan itu akan membuat dirinya dijauhi oleh teman-teman Eropanya.
 

Pesta pertunangan itu dilaksanakan di rumah seorang teman Belanda Corrie. Tuan rumah itu tidak begitu ramah menyambut pertunangan mereka. Dia tidak suka melihat dan bergaul dengan orang Belanda berkulit sawo matang. Namun, pertunangan itu tetap dilaksanakan dalam suasana hambar.
Sementara itu, Rapiah dan ibunya tetap menunggu kedatangan Hanafi di kampungnya, walaupun mereka telah mengetahui bahwa Hanafi akan menikah dengan Corrie. Walau ditinggalkan suaminya, Rapiah masih tetap tinggal bersama mertuanya. Hal itu atas permintaan ibu Hanafi. Dia menyayangi Rapiah melebihi rasa sayangnya kepada Hanafi. Dia kagum atas kesabaran dan kesetiaan Rapiah terhadap anaknya. Padahal perlakuan Hanafi terhadap Rapiah sangat keterlaluan, namun Rapiah selalu memaafkannya.
 

Sementara itu, rumah tangga Hanafi dan Corrie tidak seperti yang mereka harapkan. Sedikit pun tidak ada ketentraman dan kedamaian yang sebelumnya mereka harapkan. Keluarga mereka dijauhi oleh teman-teman mereka sendiri. Keduanya hidup dalam kondisi yang membingungkan. Bangsa Eropa tidak mengakui mereka. Demikian pula, bangsa Hanafi tidak mengakuinya karena keangkuhan dan kesombongan Hanafi.



Judul  :  Salah Asuhan
Pengarang  :  Abdoel Moeis
Lahir  :  di Sungai Puar, Bukittinggi, Sum-Bar
Tanggal  :  03 Juli 1883
Wafat  :  Bandung, Jawa Barat
Tanggal  :  17 Juni 1959 usia 75 tahun



Riwayat Pengarang :

Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam.[1] Ia dimakamkan di TMP Cikutra - Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959)[2].

Karir :

Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Dia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Kaoem Moeda sebelum mendirikan surat kabar Kaoem Kita pada 1924. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan

Riwayat Perjuangan :

Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express
Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara
Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat
Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School - Institut Teknologi Bandung (ITB)

Karya Sastra :

Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972),diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Modern Library of Indonesia
Surapati (novel, 1950)
Robert Anak Surapati(novel, 1953)

Terjemahannya :

* Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
* Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
* Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
* Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)