** Translate **

44. Dibawah Lindungan Ka'bah - Hamka

Hamid, an orphan and poor. He was then raised by a wealthy family, the family of Haji Jafar and his wife Asiah. Hamid their treatment very well. Hamid seemed to have regarded as their own child. They are so darling together Hamid, causes Hamid include a child who is diligent, polite, virtuous, and obedient at all to religion. That's why they also send to school Hamid along with Zainab Haji Ja'far biological child in grammar school.

Zainab same so dear Hamid. Zainab also Conversely, the same pity Hamid. They go to school together. They also played together after school or during the school day. When both teenagers, apparently in the chest began to grow each other's feelings. A feeling so far they have never felt. Hamid felt that affection which appeared in his chest against Zainab had exceeded affection to a brother like he's been feeling. Zainab also turned out to have the same feeling as perceived Hamid.

After completing school low, Hamid went on to school to Padang Panjang. While Zainab directly seclusion by her parents. So, with a heavy heart, he left her. While in Padang Panjang, the young man realized his love for Zainab. Feelings of longing about to meet her increasingly tortured him. He wants to always be nearby. However, he did not dare to express his feelings. He realized there was a gap in between them. Zainab comes from families reside and respected, and he's just come from poor families. That is why a vibrant love for Zainab just buried it.

Hamid really have to bury her feelings for Zainab when Haji Jafar, the father of Zainab that once his adoptive father, died. Not long after, his biological mother had died. How grieved his heart left by the two people he loved. Now he was living alone. He was nothing more than a poor orphan boy. Since the death of his adoptive father, Hamid could not see Zainab anymore because she had strict seclusion by her aunt.

Hamid's Heart getting crushed when he learned that her aunt, Asiah would to match Zainab with a young man who has a kinship with the deceased adoptive father. Even Mak Asiah told Hamid to persuade Zainab that she received as a young mother preferred her future husband. How heartbroken Hamid accepted that. Love to the idol of his heart will never be reached.

With a heavy heart, Hamid fulfilling the desires of Mak Asiah. He went to Zainab and persuade her to accept youth his aunt choice. Accepting this reality Zainab heart so sad. In her heart, she wanted to resist the will of her aunt, but she was unable to do so. So with very unwillingly, she received a young man's choice of her parents.

After that Hamid decided to leave his hometown. He could not bear the burden so heavy. That's why he left Zainab and went to Medan. Arriving at the field, he wrote a letter to Zainab. In his letter, he poured out his heart to her. From Medan, Hamid continued our journey to Singapore. Later, he went to the holy land of Mecca.

How sad and heart breaking Zainab when she received a letter from Hamid. The girl was tormented because she also loves Hamid. She really missed him. However, she had to forget her love for her aunt have to match her with another boy. Because it is always dogged by grief, Zainab becomes frequently ill and she lost her spirit.

Meanwhile, Hamid was always plagued by anxiety because of the weight of longing to Zainab. To eliminate desire, he worked at an inn owned by a sheikh. While working, he continued to deepen the Islamic religion diligently.

After a year in Mecca, met Hamid Saleh, a hometown friend who will perform the pilgrimage. When it virtuous to be a guest at the inn where Hamid worked. Saleh's wife, Zainab Rosna are close friends so that Hamid could hear about Zainab. From the narrative of Saleh, he learns that Zainab loves him. Since his disappearance, she was frequently ill. She suffered mental because she yearned for him to bear. He also knew that she did not get married with a young man choose her for a reason.

Hearing the narrative of Saleh, Hamid felt sad and happy. He's sad because Zainab in a state mental suffering. On the other hand, he was happy because she apparently loves him. That is, he is not unrequited. In addition, Zainab would be hiss because she was not married to a young heart her aunt choice. After knowing the fact that encouraging With that he decided to return to his homeland after his pilgrimage.

Meanwhile, Saleh sent a letter to his wife that it describes his meeting with Hamid. He said that Hamid is still waiting Zainab, and he informed him that Hamid would return home once they have completed the pilgrimage.

Rosna provide a letter from Saleh to Zainab. When reading the letter, how happy hearts Zainab. She never expected to meet again with her sweetheart. She was impatiently awaiting the arrival of her lover again. All the memories came back as a young man dancing in her mind. All the feelings that she expressed through her letter to Hamid. Hamid received a letter from Zainab with joy. His passion for the soon return to their increasingly passionate. He really missed his girlfriend. That is why, he forced himself to keep the pilgrimage even in sickness. He runs every stage must be implemented for the sanctity and purity of the pilgrimage with gusto. In the critically ill, he still did wukuf. However, after doing before staying at Padang Arafah, his weakened condition.

At the same time, Saleh got the bad news from his wife that Zainab had died. He did not want to give the news to Hamid as circumstances boy who was critically ill. However, Hamid urged him to tell the letter. Heart Hamid was devastated to hear that fact. But because of strong faith, he was able to accept the harsh reality and surrender completely to Allah SWT.

The next day he was still forced myself to go to Mina. However, the way he fell, so Saleh Bedouin hired to carry him. After the event at Mina are both headed to the Grand Mosque. When they finish surrounds the Kaaba, Hamid asked Kiswah dismissed. While holding Kiswah it he said, "O Lord, my God the Merciful, the Compassionate" several times. His voice was getting weaker and finally stopped for ever. Hamid had died in front of the Kaaba, the house of God, and he will be heading there.


Hamid seorang anak yatim dan miskin. Dia kemudian diangkat oleh keluarga kaya, yaitu keluarga Haji Ja’far dan istrinya Asiah. Perlakuan mereka terhadap Hamid sangat baik. Hamid seakan-akan telah dianggapnya sebagai anak mereka sendiri. Mereka begitu sayang sama Hamid, sebab Hamid termasuk seorang anak yang rajin, sopan, berbudi, serta taat sekali terhadap agama. Itulah sebabnya Hamid juga mereka sekolahkan bersama-sama dengan Zainab anak kandung Haji Ja’far di sekolah rendah.

Hamid begitu sayang sama Zainab. Sebaliknya juga Zainab, sangat sayang sama Hamid. Mereka sering pergi ke sekolah bersama-sama. Mereka juga bermain bersama-sama sepulang sekolah maupun selama di sekolah. Ketika kedua-duanya beranjak remaja, rupanya dalam dada masing-masing mulai tumbuh perasaan lain. Suatu perasaan selama ini belum pernah mereka rasakan. Hamid merasa bahwa rasa kasih sayang yang muncul dalam dadanya terhadap Zainab sudah melebihi rasa sayang kepada seorang adik seperti selama ini dia rasakan. Zainab juga ternyata mempunyai perasaan yang sama seperti yang dirasakan Hamid.

Setelah menamatkan sekolah rendahnya, Hamid melanjutkan lagi sekolahnya ke Padang Panjang. Sementara Zainab langsung dipingit oleh kedua orang tuanya. Maka, dengan berat hati, Hamid meninggalkan gadis itu. Selama di Padang Panjang, pemuda itu semakin menyadari perasaan cintanya terhadap Zainab. Perasaan rindu hendak bertemu dengan gadis itu semakin hari semakin menyiksa dirinya. Ia ingin selalu berada di dekatnya. Namun, ia tidak berani mengutarakan perasaan hatinya. Ia menyadari adanya jurang pemisah yang sangat dalam di antara mereka. Zainab berasal dari keluarga berada dan terpandang, sedangkan dia hanya berasal dari keluarga miskin. Itulah sebabnya rasa cinta yang bergelora terhadap Zainab hanya dipendam saja.

Hamid benar-benar harus mengubur perasaan cintanya kepada Zainab ketika Haji Ja’far, ayah Zainab yang sekaligus ayah angkatnya, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggal dunia. Betapa pilu hatinya ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya. Kini ia merasa hidup sebatang kara. Ia merasa tidak lebih sebagai pemuda yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid tidak dapat menemui Zainab lagi karena gadis itu telah dipingit ketat oleh mamaknya.

Hati Hamid semakin hancur ketika ia mengetahui bahwa mamaknya, Asiah akan menjodohkan Zainab dengan seorang pemuda yang memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum ayah angkatnya. Bahkan Mak Asiah menyuruh Hamid untuk membujuk Zainab agar gadis itu menerima pemuda pilihan ibunya sebagai calon suaminya. Betapa hancur hati Hamid menerima kenyataan itu. Cinta kasih kepada pujaan hatinya tidak akan pernah tercapai.

Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mak Asiah. Dia menemui Zainab dan membujuk gadis itu agar menerima pemuda pilihan mamaknya. Menerima kenyataan tersebut hati Zainab menjadi sangat sedih. Dalam hatinya, ia ingin menolak kehendak mamaknya, namun ia tidak mampu melakukannya. Maka dengan sangat terpaksa, ia menerima pemuda pilihan orang tuanya itu.

Setelah kejadian itu Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak sanggup menanggung beban yang begitu berat. Itulah sebabnya, ia meninggalkan Zainab dan pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zainab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada gadis itu. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju Singapura. Kemudian, dia pergi ke tanah suci Mekkah.

Betapa sedih dan hancurnya hati Zainab ketika ia menerima surat dari Hamid. Gadis itu merasa tersiksa karena iapun mencintai Hamid. Ia sangat merindukan pemuda itu. Namun, ia harus melupakan cintanya karena mamaknya telah menjodohkan dirinya dengan pemuda lain. Karena selalu dirundung kesedihan, Zainab menjadi sering sakit-sakitan dan ia kehilangan semangat hidupnya.

Sementara itu, Hamid pun selalu dirundung kegelisahan karena menahan beban rindunya kepada Zainab. Untuk menghapuskan kerinduannya, dia bekerja pada sebuah penginapan milik seorang Syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agama Islam dengan tekun.

Setelah setahun berada di Mekkah, Hamid bertemu dengan Saleh, seorang teman kampungnya yang akan melaksanakan ibadah haji. Ketika itu saleh menjadi tamu di penginapan tempat Hamid bekerja. Istri Saleh, Rosna adalah teman dekat Zainab sehingga Hamid dapat mendengar kabar tentang Zainab. Dari penuturan Saleh, dia mengetahui bahwa Zainab pun mencintai dirinya. Sejak kepergiannya, gadis itu sering sakit-sakitan. Ia sangat menderita batin karena dia menanggung rindu kepadanya. Ia juga mengetahui bahwa gadis itu tak jadi menikah dengan pemuda pilih ibunya karena suatu alasan.

Mendengar penuturan Saleh, Hamid merasa sedih sekaligus gembira. Dia sedih sebab Zainab dalam keadaan menderita batin. Di lain pihak, ia gembira sebab gadis itu ternyata mencintai dirinya. Artinya, ia tidak  bertepuk sebelah tangan. Selain itu, Zainab akan menjadi miliknya karena gadis itu tidak menjadi menikah  dengan pemuda pilihan hati mamaknya. Setelah mengetahui kenyataan yang menggembirakan itu, Hamid memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah ia menunaikan ibadah haji.

Sementara itu, Saleh mengirimkan surat kepada istrinya yang isinya menggambarkan pertemuannya dengan Hamid. Ia menceritakan bahwa Hamid  masih menantikan Zainab, dan ia pun  memberitahukan bahwa Hamid akan pulang ke kampung halamannya bila mereka telah selesai menunaikan ibadah haji.

Rosna memberi surat dari Saleh kepada Zainab. Ketika membaca surat itu, betapa gembiranya hati Zainab. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu  kembali dengan  kekasih hatinya. Ia merasa tak sabar lagi menanti kedatangan kekasih hatinya. Segala kenangan indah bersama pemuda itu kembali menari-nari dalam pikirannya. Semua perasaannya itu ia ungkapkan melalui suratnya kepada Hamid. Hamid menerima surat Zainab dengan suka cita. Semangatnya untuk segera kembali ke kampung semakin menggebu-gebu. Dia sangat merindukan kekasihnya. Itulah sebabnya, dia memaksakan diri untuk tetap menunaikan ibadah haji sekalipun dalam keadaan sakit. Dia menjalankan setiap tahap yang wajib dilaksanakan untuk kesucian dan kemurnian ibadah haji dengan penuh semangat. Dalam keadaan sakit parah, ia tetap melakukan wukuf. Namun, sepulang melakukan wukuf di Padang Arafah, kondisi tubuhnya semakin melemah. 

Pada saat yang sama, Saleh mendapat kabar buruk dari istrinya bahwa Zainab telah meninggal dunia. Ia tidak ingin memberikan kabar tersebut kepada Hamid karena keadaan pemuda itu yang sedang sakit parah. Namun, Hamid mendesaknya untuk menceritakan surat tersebut. Hati Hamid sangat terpukul mendengar kenyataan itu. Namun karena keimanannya kuat, dia mampu menerima kenyataan pahit itu dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Keesokan harinya ia tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina. Namun, dalam perjalanannya dia terjatuh, sehingga Saleh mengupah orang Badui untuk memapahnya. Setelah acara di Mina keduanya berangkat menuju ke Mesjidil Haram. Ketika mereka selesai mengelilingi Kabah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah. Sambil memegang Kiswah itu ia mengucapkan “Ya Rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang“ beberapa kali. Suaranya semakin melemah dan akhirnya berhenti untuk selama-lamanya. Hamid telah meninggal dunia di hadapan Kabah, rumah Allah, dan ia akan menuju ke sana.




Judul : Dibawah Lindungan Ka'bah
Pengarang : Hamka (Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah

Lahir : Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat
Tanggal : 17.02.1908 (bertepatan 14 Muharram 1326)
Wafat : Jakarta, 24 Juli 1981


Riwayat Pengarang : 

Namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di Sungai Batang, Maninjau Sumatera Barat pada tanggal 17 Februari 1908 atau bertepatan dengan 14 Muharram 1326 H. Buya Hamka, begitu panggilannya, adalah seorang politikus, agamawan, wartawan, budayawan, ilmuwan, dan masih julukan yang dimilikinya. Ia juga seorang Ahli Tafsir Qur’an yang cukup terkenal. Karya tafsirnya yang cukup terkenal ialah Tafsir al-Azhar.
  • Tahun 1925, untuk pertama kalinya ia mengarang buku dengan judul Khatibul Ummah. Yaitu buku kumpulan pidato pada saat usianya baru 17 tahun. Di tahun 1929, Buya Hamka telah menerbitkan 4-5 buku yang berhubungan dengan tarikh (sejarah) dan sosial. Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya ia menunaikan Ibadah Haji. 
Dalam lingkungan keluarga, ayahnya sangat keras dan fanatik terhadap ajaran agama. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memberontak dan mengambil keputusan untuk melarikan diri ke Makkah. Kemudian pada tahun 1945-1949 ia kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Di sana ia ditunjuk sebagai ketua Muhammadiyah setempat. Ia berusaha melontarkan pikiran-pikiran pembaruannya.Tahun 1950 Buya Hamka pindah ke Jakarta. Ia menjabat sebagai pegawai tingkat tinggi Kementerian Agama. Ia termasuk kyai yang penuh semangat dalam mengabdi kepada masyarakat. Pada tahun 1975 secara resmi ia memangku jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan hasil musyawarah nasional pertama.Buya Hamka merupakan ulama yang pertama kali mampu menggunakan sastra yang bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan Allah SWT dan Risalah Rasulullah SAW. Segala pemikiran, ajaran, dan tingkah-lakunya memiliki makna yang unggul dan kharismatik. Kitab Itmat al-Diroya karya as-Sayuti telah dipelajari Hamka di bawah bimbingan ayahnya. Pengetahuan agamanya bersifat menyeluruh, baik menyangkut materi inti berupa ajaran agama, juga metode-metode yang digunakan. Pemikirannya bersifat tanggap terhadap kebudayaan masyarakat. Semua karya sastranya sangat menarik untuk dipelajari, karena warna lokalnya begitu hidup yang menggambarkan keadaan para pelaku yang hampir semuanya muslim, yang taat menjadi perantau di tanah orang. Masalah yang diangkat kebanyakan bersifat kemanusiaan.
  • Buku novel yang ditulis atau terjemahkan menjadi buah bibir di kalangan pemuda-pemudi pada masa itu. Bahkan menjadi kritik tajam bagi sebagian para ulam tradisional. “Haji atau ulama roman?”, begitu kritik yang ditujukan kepadanya. Karena para ulama tradisional pada saat itu kurang dapat menerima jika seorang ulama menulis tentang percintaan dan roman. Karya novelnya Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Hamka juga menulis terjemahan karya pujangga Prancis tentang kehidupan seorang pelacur yang bernama Margarette Gauthier. Pada aspek religiusitas, pemikiran keagamaannya lebih cenderung ke tarekat. Hamka mendapat pendidikan agama dari sumber yang memiliki keabsahan penuh dilihat dari sudut pandang ortodok agama keluarganya. Sikap keagamaannya timbul dari pikiran absolut yang bersifat sangat eksklusif dalam menegakkan kebenaran.Sebagai seorang politikus, ia berdiri di barisan depan membendung arus pengaruh Komunis pada zaman Orde Lama dan tampil sebagai figur ulama demokrat di masa Orde Baru. Pemikirannya telah menelurkan karya-karya Islam yang amat bermanfaat bagi umat. Sebagai pujangga, ia menampakkan diri dengan wajah humanis. Sebagai seorang pemimpin lembaga keagamaan, ia muncul dengan sikap politis otonom dan merdeka.
Buya Hamka wafat pada bulan Juli tahun 1981 bertepatan dengan bulan Ramadhan.