** Translate **

43. Anak Perawan Disarang Penyamun - Sutan Takdir Alisjahbana

Adalah seorang saudagar bernama H.Sahak, mempunyai  seorang istri bernama Andun, dan seorang anak perempuan bernama Sayu.
 
Suatu ketika H.Sahak bersama keluarganya pergi berdagang ke Palembang. Saat mereka pulang dari perdagangannya tersebut di sebuah desa di tepian hutan, mereka kemalaman. Untuk itu mereka berniat bermalam di tempat tersebut. Tanpa disadari oleh H.Sahak, ternyata kepergian dirinya untuk berdagang tersebut sudah diintai oleh kawanan perampok yang dikepalai oleh Medasing.
 
Maka ketika malam tiba, datanglah lima perampok tersebut untuk menguras harta benda yang dibawa oleh H.Sahak. Karena melakukan perlawanan, terjadilah pertengkaran hebat. Melihat kondisi yang tidak seimbang tersebut, akhirnya H.Sahak terbunuh. Kawanan perampok yang sudah berhasil membunuh H.Sahak segera membawa barang-barang berharga yang dimiliki oleh H.Sahak, namun Medasing dan komplotannya merasa belum puas. Sedangkan Sayu yang masih polos tersebut dibawa lari oleh kawanan pengacau tersebut. Sayu anak H.Sahak ikut menjadi korban, Sayu pun dibawa lari ke dalam hutan. Kini yang tertinggal hanyalah Andun, Istri H.Sahak. Dengan perasaan sedih pulanglah ia.
 
Pada bagian lain dikisahkan, seorang suruhan bernama Samad. Samad termasuk kawanan perampok, tetapi tugasnya sebagai mata-mata. Mendengar temannya berhasil merampok, maka datanglah Samad menemui temannya tersebut untuk mendapatkan bagiannya.
 
Saat itulah Samad bertemu dengan Sayu. Begitu melihat kecantikan Sayu, maka muncul niat jahatnya untuk melarikan gadis malang tersebut. Dengan akal busuk dan tipu dayanya ia katakan kepada Sayu, bahwa ia akan menyelamatkannya dari cengkeraman perampok tersebut. Dijanjikan pula bahwa Sayu akan dibawa pulang dan dikembalikan kepada orangtuanya.
 
Sayu merasa curiga terhadap niat baik Samad. Akhirnya Sayu tahu bahwa ternyata Samad adalah orang suruhan Medasing kepala perampok tersebut.
 
Tentang Medasing, sebenarnya dia bukan keturunan perampok. Ia dilahirkan di sebuah kampung dari keluarga biasa. Saat ia masih kecil, kampungnya dijarah perampok, serta dibakar habis. Ketika kepala perampok yang memeliharanya meninggal, maka Medasing oleh kawan-kawannya dinobatkan sebagai gantinya yakni kepala perampok.
 
Setelah membunuh H.Sahak, karir Medasing mulai menurun. Beberapa kali Dia merencanakan perampokan, namun selalu gagal. Bahkan dalam suatu peristiwa, dia nyaris terbunuh saat bertempur melawan kompeni. Hal itu terjadi karena pengkhianatan Samad. Berturut-turut anggota Medasing tewas. Medasing sendiri mengalami musibah dalam pertempuran tersebut. Tangan Medasing patah. Sejak saat itu tinggallah mereka berdua di tengah hutan bersama Sayu. Karena khawatir tidak ada makanan untuk persediaan mereka, maka Sayu yang biasanya tidak berani dengan Medasing, maka kini ia sering berbicara serta memberikan saran-saran kepada Medasing.
 
Akibat dari pergaulannya dengan Sayu, maka Medasing akhirnya menjadi orang yang baik. Dibagian akhir dikisahkan Medasing dan Sayu akhirnya menjadi sepasang suami istri.

   
Judul  : Anak Perawan Disarang Penyamun
Pengarang  :  Sutan Takdir Alisjahbana
Lahir : Natal, Sumatera Utara, Indonesia, 11.02.1908
Wafat  :  17.07.1994


Riwayat Pengarang : 
 
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4. 
  • Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).