Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia....

42. Si Jamin dan si Johan - Merari Siregar

Jamin dan Johan adalah anak dari Bertes dan Mina. Bertes memiliki kelakuan yang kurang baik dari sejak mudanya. Pada umur dua puluh satu tahun, dia meninggalkan ibunya yang sudah tua dan janda untuk menjadi serdadu. Bahkan sampai Ibunya meninggal pun Bertes tidak pernah mengirim kabar satu kali pun pada Ibunya.

Beberapa tahun kemudian, Bertes menikah dengan Mina. Mereka memiliki dua orang anak, bernama Jamin dan Johan. Tetapi, walaupun sudah menikah dan mempunyai anak, kelakuan Bertes tidak bertambah baik. Bertes suka berteman dengan orang-orang yang suka mabuk. Oleh karena pergaulan itu, perlahan-lahan Bertes terbawa ke jurang yang dalam. Ia terbiasa meniru perbuatan kawan-kawannya yang suka mabuk. Walaupun sudah berkali-kali Mina menasihati, Bertes tidak pernah mau mendengar. Kelakuan Bertes makin menjadi-jadi dan membuat Mina makan hati dan akhirnya meninggal.

Beberapa hari setelah Mina meninggal, Bertes mengambil Inem menjadi istrinya. Inem pun seorang perempuan yang kurang baik, suka mabuk dan mengisap candu. Uang simpanan Mina yang dahulu dihabiskan membeli candu. Perkakas rumah pun satu demi satu dijual Inem untuk membeli candu. Inem juga berbuat sesuka hatinya kepada Jamin dan Johan. Inem memaksa Jamin meminta-minta setiap hari dan uangnya dihabiskan untuk membeli candu.

Suatu pagi, Inem kembali memaksa Jamin pergi meminta-minta dan mengancam si Jamin agar tidak pulang sebelum mendapatkan sejumlah uang. Si Jamin pun pergi ke tempat-tempat di mana dia biasa mengemis. Sampai jauh malam Jamin belum juga mendapat uang sebanyak yang diminta ibu tirinya. Karena kelaparan dan kelelahan, si Jamin pingsan di depan sebuah toko obat. Esok paginya, pemilik toko obat, Kong Sui dan Istrinya, Nyonya Fi menemukan si Jamin. Mereka menolong si Jamin. Memberinya makan, pakaian, dan uang sebanyak yang diminta ibu tirinya. Lalu si Jamin dibiarkan pulang.

Ketika si Jamin sampai di rumah, uang yang diberikan Kong Sui dan Nyonya Fi diambil oleh Inem. Pakaian yang diberikan pada si Jamin juga hendak dijualnya. Tapi saat si Jamin merogoh kantung celananya, dia menemukan cincin Nyonya Fi di situ, sehingga dia tidak mau melepas celananya. Tapi tidak berapa lama, cincin itu diambil juga oleh si Inem. Sementara itu, Bertes ditahan polisi karena dituduh membunuh orang.

Esok paginya, saat Jamin kembali disuruh meminta-minta, si Johan entah bagaimana berhasil mengambil cincin Nyonya Fi dari Inem. Maka pergilah si Jamin dan si Johan mengembalikan cincin itu. Tetapi di jalan, si Jamin tertabrak trem dan dibawa orang ke rumah sakit. Si Johan yang kebingungan pergi ke tempat Kong sui dan Istrinya lalu menceritakan perihal si Jamin. Nyonya Fi yang kasihan pada Johan dan Jamin mengajak anak itu ke rumah sakit untuk melihat Jamin. Tapi sayang, beberapa saat kemudian si Jamin akhirnya meninggal karena sudah parah dan tidak tertolong lagi.

Setelah si Jamin meninggal, Johan tinggal di rumah Kong Sui dan dibiayai sekolahnya oleh Kong Sui dan Istrinya karena mereka tidak memiliki anak. Sementara itu, si Inem ditemukan mati lemas tenggelam di sungai. Itulah akhir kehidupan si Inem.

Tiga bulan kemudian, Bertes keluar dari tahanan. Si Bertes menyesali kelakuannya yang turut menyebabkan anak dan Istrinya meninggal. Bertes pergi ke rumah Kong Sui, meminta maaf pada si Johan dan berterima kasih pada Kong Sui dan Istrinya.

Judul : Si Jamin dan Si Johan
Lahir : Sipirok-Sumut, 13.07.1896
Wafat : Kalianget,Madura-Jatim, 23 April 1941



 Riwayat Pengarang : 

Merari Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.

Setelah lulus sekolah Merari Siregar bekerja sebagai guru bantu di Medan. Kemudian dia pindah ke Jakarta dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo). Terakhir pengarang ini pindah ke Kalianget, Madura, tempat ia bekerja di Opium end Zouregie sampai akhir hayatnya.

Karya :

* Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.

* Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
* Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
* Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.

Saduran : 

* Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918.