** Translate **

37. Tak Putus Dirundung Malang - Sutan Takdir Alisjahbana

Adalah Syahbudin, duda dengan dua orang anak, kesabaran dan ketabahan adalah jiwa kekuatan, dia ditinggal mati oleh istrinya karena terlalu pahit akan kemiskinan yang dipikulnya. Kehidupan Syahbudin dapat dilalui tanpa istrinya. Kesibukan kesana-kemari mencari pekerjaan dan mengurusi 2 orang anak membuat dia lalai akan api kecil disudut ruangan beralaskan kayu sehingga membakar istana kecilnya dengan cepat. Dengan semangatnya yang tersisa 70% dia masih mampu membuat istana kecil dan mungil berlantaikan tanah dan tidur beralaskan tikar.
 

Pekerjaan Syahbudin hanyalah dengan mencari buah kelapa ke negeri seberang. Ia tiada pernah meninggalkan anaknya. Laminah dan Mansur selalu bersenang hati bila berada di sisi ayahnya. Akan tetapi hasil tak cukup buat makan seminggu.
 
Dalam mencari kehidupan yang mapan, Syahbudin pergi merantau dan meninggalkan 2 anaknya itu. Laminah dan Mansur sungguh sedih dan menangis atas kepergian ayahnya. Mereka berdua sudah dipasrahkan yaitu pada adik kandung Syahbudin yang biasa dipanggil madang dan beristrikan Jesipah. 

Dalam beberapa bulan ayahnya kembali ke negeri tanah kelahiran. Uang yang didambakan kini berganti dengan kecemasan dan ketakutan pada penyakit yang diderita Syahbudin. Apalah daya, ilmu nenek Zaleka, dukun yang termahir tidak dapat menghalangi tugas malaikat pencabut nyawa. Syahbudin meninggal. Lengkap sudah penderitaan Laminah dan Mansur tanpa keluarga di dunia ini.

Pada usia 15 tahun anak yatim piatu itu hidup masih berada di tangan Madangnya. Dalam usia masih dini mereka dipaksa untuk bekerja yang berat hingga tulang muda itu tanpa pernah diberi waktu untuk beristirahat sedikitpun.
 
Pada suatu hari, Masduki anak Jesipah yang masih kecil itu gemar sekali bermain dengan Laminah seperti halnya anak desa lainnya. Mainan itu terbuat dari kulit jeruk. Dengan senang hati Marzuki memainkannya. Tanpa terasa kaki Marzuki tergores oleh pisau yang ada didekat Laminah. Anak kecil itu menangis tak terkendali. Darah Laminah seakan berhenti melihat kejadian itu, rasa takut dan khawatir akan apa yang akan dilakukan oleh Jesipah nanti. Tapi syukur rasa ketakutan kini tiada lagi karena Jesipah telah berbohong pada suaminya tentang kejadian itu. Beberapa jam Laminah masih dapat merasakan ketenangan jiwanya. Sungguh sangat disayang Marzuki telah menceritakan kebenarannya kepada ayahnya. Bagai petir di siang hari, menggelegar suara Pamannya bercampur amarahnya memanggil Jesipah dan Laminah. Tanpa banyak kata, pukulan yang tak terelakkan terus-menerus mengenai tubuh Jesipah, berganti pada Laminah. Punggung yang masih lentur kini terbebani kayu berukuran besar tanpa bisa dihitung lagi. Jesipah dan Laminah diusir dari rumahnya ditambahkan caci makian dan pukulan untuk kesekian kali. Entah kenapa Laminah hanya diam dan membisu tidak dapat melarikan diri dari tangan Pamannya itu.

Mansur seharian berada di pantai mencari sesuatu yang dapat dimakan oleh keluarganya di rumah sedari pagi tanpa sesuap nasi dan setetes air yang masuk diperutnya. Seorang kakak tentu merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya, begitu juga Mansur. Dengan terburu-buru dia berlari-lari menuju rumah. + 200 jarak menuju rumah, ia mendengar suara tangis dan jeritan Laminah yang sedang dipukul oleh Pamannya. Mansurpun segera menarik tangan Pamannya dengan sekuat tenaga. Tanpa pertimbangan lagi Mansur mangajak Laminah untuk meninggalkan rumah yang penuh penyiksaan itu dan dibawanya ke rumah Datuk Hatim. 

Dengan senang hati Datuk dan Andung Saripah menerima mereka. Kesehatan Laminah sangat buruk. Karena terlalu banyak derita yang dialami Laminah, dengan tekat yang bulat Mansur berniat meninggalkan negeri ketahun karena Pamannya itu selalu mencarinya.

Dalam angin malam mansur kerumah Jesipah lewat pintu belakang dan meminta izin pergi ke Bengkulu. Jesipah resah karena di Bengkulu itu tak ada sanak famili. Memang berat bagi mereka meninggalkan Jesipah dan tanah kelahirannya.

Laminah dan Mansur mengembara dari dusun ke dusun melewati hutan lebat dan jalan berbatu tajam. Sampai menjelang gelap mereka menginap di beranda orang Cina. Suasana alam telah terdengar membangunkan impian mereka. Persawahan masih tetap ditelusuri dan masuklah mereka ke kebun yang amat luas yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Mereka duduk sebentar merasakan angin di bawah pohon Limau. Penjaga kebun bernama Mamak Patik, menghampiri dan bertanya pada mereka. Mamak patik sangat baik, rasa kasihan melihat mereka yang tak tahu harus melangkah kemana lagi. Mamak Patik membawa ke rumah untuk sementara sampai mereka mendapat pekerjaan.

Lama mencari pekerjaan yang mereka harapkan akhirnya mereka peroleh yakni pekerjaan menjadi pelayan di toko roti. Pekerjaan baru itu membuatnya lupa akan kemiskinan yang selama ini mereka rasakan. Mereka berdua mendapatkan makan dan tempat tinggal secara gratis. Mansur bekerja untuk mengantarkan barang kesana-kemari di sekitar Bengkulu.

Bulan berganti bulan Laminah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat menarik, para bujang pekerja toko itu sangat suka dengan Laminah tapi tentunya takut dengan kakaknya. Tiap hari pekerja toko itu selalu berebut mendapatkan Laminah. Dengan kebaikan dan kasih sayang tak lupa hartanya mereka berikan buat gadis idaman itu.

Dalam beberapa hari ini Laminah merasa khawatir tak tentu sebabnya. Kurang tidur dan sering kali kedinginan seakan ada firasat bahaya yang akan menimpanya seperti mimpi-mimpi ngeri yang selalu menghantuinya.
 
Seminggu yang lalu Tokeh menerima seorang pekerja kuli kontrak, Sarmin namanya. Semua kehidupannya tergantung pada kekuatan tulangnya dan bersemboyan “hari ini untuk hari ini, besok dapat kita berfikir”. Dengan datangnya Sarmin, Laminah makin hari semakin tak senang. Seakan hidupnya dalam bahaya ketakutan.
 
Kesenangan hidup yang dikecamnya dalam beberapa hari ini seakan kembali senyap. Mansur merasa kasihan melihat adiknya. Laminah dan Mansur bersepakat untuk bekerja ditoko itu sampai akhir bulan. 

Pekerjaan dilakukan seperti biasa. Laminah ke belakang dan membersihkan piring. Sarmin mengikutinya dan berniat untuk merampas kegadisannya. Laminah sangat takut dengan adanya Sarmin di sampingnya. Dengan secepat kilat Sarmin berusaha menodai gadis itu. Hanya jeritan yang keluar dari mulut Laminah dan berusaha untuk lari dari genggaman tangan kekar Sarmin. Para pekerja tidak berani menolongnya karena takut dengan kekuatan Sarmin.
 
Laminah kini hanya diam dan menangis menyesali akan peristiwa itu. Mansur tiada mengerti akan sikap Laminah dan meminta Laminah untuk menceritakan apa yang dialaminya. Tanpa menunggu lama Mansur membawa pisau berniat untuk membunuh Sarmin. Mereka saling mengadu kekuatan dan bersilat kuda. Tiada lagi yang dapat memisahkannya kecuali dengan pistol Tokeh. Karena kesalahan ada dipihak Sarmin, maka dia dikeluarkan dari toko itu.  

Malam telah larut dan terjadi tragedi pada diri Laminah. Ia yang sudah tak tahan lagi menanggung noda kehidupannya tanpa berpikir panjang Laminah menceburkan dirinya kedalam lautan yang tak terbatas. Laminah bunuh diri.

Mansur mendengar kabar tentang adik kesayangannya, tanpa pikir panjang, ia ingin mati di pelabuhan laut seperti adik kesayangannya. Iapun pergi ke laut dimana tempat adiknya menceburkan diri dan terjadilah apa yang ia harapkan..

 
Judul  : Tak Putus Dirundung Malang
Pengarang  :  Sutan Takdir Alisjahbana
Lahir : Natal, Sumatera Utara, Indonesia,11.02.1908
Wafat : 17.07.1994





Riwayat Pengarang : 
 
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4. 
  • Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).