** Translate **

36. Ciung Wanara - Jawa Barat

King Barma Wijaya Kusuma kingdom ruled Galuh very wide. He has 2 queen. The first named Pohaci Naganingrum and the second named Dewi Pangrenyep. Both are pregnant.

In the 9th Dewi Pangrenyep bear a son. The king was overwhelmed and his son was named Hariang Banga.

Hariang Banga has 3 months old, but the empress Pohaci Naganingrum has not given birth. Lest Pohaci later gave birth to a son who can seize the king's affection towards Hariang Banga, Dewi Pangrenyep intends Pohaci son was about to harm.

After month 13 Pohaci gave birth. Dewi Pangrenyep efforts  no one lady's maid was allowed to help Pohaci.

With shrewdness Pangrenyep, the son of Pohaci's replaced by a dog. He said that Pohaci has given birth to a dog. Baby Pohaci Kandaga inclusion in gold with chicken eggs and washed away to Citandui river.

Because of the disgrace inflicted Pohaci Naganingrum who has given birth to a dog, the king was furious and ordered court officials to kill Pohaci. The court officials down does not have the heart to carry out the king's orders to Pohaci, consort of lord. Pohaci delivered to the village where he was born, but their reports have been killed.

Is an Aki with his wife, Nini Balangantrang, lived in the village Geger Sunten without neighbors. Been a long time they were married, but not endowed with the child. One night Nini full moon dream downfall. The dream he told the husband and the husband knows the meaning of dream, that they will receive sustenance. The night was also Aki went to the river to bring nets to catch fish.

How surprised and delighted he got the gold Kandaga containing chicken eggs and their babies, they foster the baby patiently and lovingly. Chicken egg that was their hatch, they maintain it up to be a rooster that magical and mighty. The foster child they named Ciung Wanara.

After a big Ciung Wanara ask to his father and adoptive mother. Frankly Aki and Nini tells about the origin of Ciung Wanara. After hearing the story of a father and adoptive mother, Ciung Wanara will know him.

One day Ciung Wanara farewell to risking chickens with chicken king, when he heard the king fond of risking chicken. The bet is that, if he lost chicken Ciung Wanara willing to sacrifice his life. But when the chicken king defeated, the king must be willing to lift the crown prince. King happily accept the offer.

Before the cock fight, cock crowing Ciung Wanara oddly, depicts many years ago about the empress who was sentenced to death and containing gold Kandaga baby washed away. King did not realize it, but otherwise very impressed court officials down it. Even he realizes now Ciung Wanara in front of him was the son of the king himself.

After risked, chicken and chicken king lost Ciung Wanara win. King keeping promises and Ciung Wanara appointed crown prince. In a rapture party crown prince, the king divided the two kingdoms to Ciung Wanara and Hariang Banga. Party finished the appointment of court officials down crown prince told the king about the real empress Pohaci Naganingrum and Ciung Wanara.

After hearing the story, the king ordered the guards in order to arrest Dewi Pehgrenyep. That places a fight between Hariang Banga Ciung Wanara. Banga Hariang body thrown across the river Cipamali being great flood. Since then Galuh kingdom is divided into 2 parts by the river boundary Cipamali. In the western part was ruled by Hariang Banga. The people are like the harp and like rhymes. While the eastern part was ruled by Ciung Wanara. The people are like shadow puppetry and song. The arts craze of the population will still clearly be felt until now.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas. Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung.

Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.

Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.

Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.

Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.

Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.

Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.

Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.

Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.

Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam. Taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.

Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa bertahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu. Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.

Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.

Setelah mendengar cerita tersebut, Raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar. Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang.