** Translate **

34. Manik Angkeran - Bali

Daha kingdom, there lived a Brahmin named Sidi Mantra. He has a beautiful wife and property are many. So long to get married, then they are blessed with a son who they named Manik Angkeran.

As adults, Manik Angkeran be a very young and handsome, but unfortunately he has a terrible temper, which likes to gamble. For the sake of gambling, he risked his parents' property. He also had a lot of deb. Increasingly more and more debt, so that he could not pay. Therefore, Manik Angkeran asking for help her father.

Sidi Mantra then fasting and praying for a way out of this problem. Suddenly, he heard a voice, "O Sidi Mantra  there is treasure guarded by the dragon Besukih. Ask him to give you a little treasure".

Sidi Mantra go to Mount Agung to pass through various obstacles. When he got there, he immediately rang the bell as he cast a spell to summon Dragon Besukih. Finally, Dragon Besukih out and ask intentions Sidi Mantra.

Sidi Mantra expressed his intention to ask for a little treasure of a dragon Besukih. The dragon was writhing. Of the scales, get out diamonds and gold. Sidi Mantra to thank Dragon Besukih. He excused himself.

At home, all the treasures that he gave to Manik Angkeran.

"Put this on, but I ask you not to gamble anymore..," said Sidi Mantra to his son. Manik Angkeran father promised not to repeat his actions.

Soon, however, the property was discharged again because Manik Angkeran use it again to gamble. When this young man back for help her father, Sidi Mantra rejected.

From one of his companions, Manik Angkeran know about the treasure guarded by the dragon Besukih. Secretly, he stole his father's bell and go to Mount Agung.

Dragon Besukih asked Manik Angkeran intentions. This young man also expressed his intention. Then, the young man arose malicious intent. He took all the treasure. When the Dragon turned, Manik Angkeran cut the dragon tail. Dragon Besukih been expecting the attack. He threw the tail towards Manik Angkeran. Bead head Angkeran tertebas. He also died.

Sidi Mantra and his wife was disappointed with his attitude. However, they still appealed to Naga Besukih that revived her. Dragon Besukih also grant it. Bead head Angkeran fused with his body and he revived. The old man rose and begged thank yourself.

Amid the way home, on the edge of a river, Sidi Mantra stick into the ground soil. From there, the water that poured forth so as to form a small strait. The strait separates Angkeran Manik and his parents.

To his son, Sidi Mantra said that now they are not going to live together again forever. Manik error Angkeran already too much. Sidi Mantra and his wife vanished like smoke. Manik Angkeran deeply regretted his actions and continues to search for his parents. However, he never found them again. The strait called the Strait of Bali and is a strait that separates the island of Java and the Port of Ketapang in Banyuwangi, East Java.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
 
Di kerajaan Daha, hiduplah seorang Brahmana yang bernama Sidi Mantra. Ia memiliki istri yang cantik dan harta benda yang banyak. Sekian lama menikah, barulah mereka dikarunia seorang putra yang mereka beri nama Manik Angkeran.

Setelah dewasa, Manik Angkeran menjadi pemuda yang sangat tampan dan gagah, tetapi sayang ia memiliki sifat yang buruk, yaitu suka berjudi. Demi berjudi, ia mempertaruhkan harta benda orangtuanya. Ia juga punya banyak utang. Makin hari utangnya semakin banyak, sehingga ia tidak bisa membayarnya. Oleh karena itu, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya.

Sidi Mantra lalu berpuasa dan berdoa untuk mendapatkan jalan keluar dari permasalahan ini. Tiba-tiba, ia mendengar suara, “Wahai Sidi Mantra, ada harta karun yang dijaga oleh Naga Besukih. Mintalah ia untuk memberikan sedikit harta itu kepadamu!”.

Pergilah Sidi Mantra ke Gunung Agung dengan melewati berbagai rintangan. Sesampainya disana, ia segera membunyikan genta sambil membaca mantra untuk memanggil Naga Besukih. Akhirnya, Naga Besukih keluar dan bertanya maksud kedatangan Sidi Mantra.

Sidi Mantra mengutarakan niatnya untuk meminta sedikit harta dari Naga Besukih. Naga itu pun menggeliat. Dari sisiknya, keluarlah intan dan emas. Sidi Mantra mengucapkan terimakasih kepada Naga Besukih. Ia pun mohon diri.

Sesampainya di rumah, semua harta itu ia berikan kepada Manik Angkeran.
“Pakailah ini, tetapi aku minta kau tidak berjudi lagi..,” kata Sidi Mantra kepada putranya. Manik Angkeran berjanji pada ayahnya untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Namun tak lama kemudian, harta benda itu habis lagi karena Manik Angkeran menggunakannya lagi untuk berjudi. Ketika pemuda ini kembali minta pertolongan ayahnya, Sidi Mantra menolaknya.

Dari seorang kawannya, Manik Angkeran mengetahui perihal harta yang dijaga oleh Naga Besukih. Diam-diam, ia mencuri genta milik ayahnya dan pergi ke Gunung Agung.

Naga Besukih menanyakan maksud kedatangan Manik Angkeran. Pemuda ini pun mengutarakan niatnya. Lalu, timbullah niat jahat pemuda ini. Ia mengambil semua harta itu. Ketika Sang Naga berbalik, Manik Angkeran memotong buntut Naga tersebut. Naga Besukih sudah menduga serangan tersebut. Ia menghempaskan buntutnya kearah Manik Angkeran. Kepala Manik Angkeran tertebas. Ia pun meninggal dunia.

Sidi Mantra dan istrinya kecewa dengan sikap anaknya. Namun, mereka tetap memohon kepada Naga Besukih agar anaknya dihidupkan kembali. Naga Besukih pun mengabulkannya. Kepala Manik Angkeran menyatu dengan tubuhnya dan ia hidup kembali. Orang tua itupun mengucapkan terimakasih dan memohon diri.

Ditengah perjalanan pulang, ditepi sebuah sungai, Sidi Mantra menancapkan tanahnya ke tanah. Dari sana, keluarlah air yang memancar sehingga membentuk selat kecil. Selat ini memisahkan Manik Angkeran dan orang tuanya.

Kepada anaknya, Sidi Mantra mengatakan bahwa sekarang mereka tidak akan tinggal bersama lagi selamanya. Kesalahan Manik Angkeran sudah terlalu banyak. Sidi Mantra dan istrinya pun lenyap seperti asap. Manik Angkeran sangat menyesali perbuatannya dan terus berusaha mencari kedua orangtuanya. Namun, ia tidak pernah menemukan mereka lagi. Selat tersebut dinamakan Selat Bali dan merupakan selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur.


:: Patuhilah Nasehat Orang Tua dan Jauhilah Sifat Serakah yang hanya akan Membawa Kerugian Bagi Kita ::