Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia.... Anak Indonesia....

28. Jaka Tarub - Jawa Tengah

Jaka Tarub is a handsome young man who has supernatural powers. He often went out into the woods to hunt and gain knowledge. When a full moon day in the evening he entered the forest, the distance he heard the faint sound of a woman who was joking.

Driven by curiosity, Jaka Tarub goes looking direction toward the voices. Until finally he found a very beautiful lake in the middle of the forest, along with 7 people very beautiful woman bathing fun and joking.

With sneaking, Jaka Tarub walked over. Then he found the clothes the women were lying scattered. After the vote, he stole one of them and hide them. Some time passed and the angel was about to return to Khayangan. 6 of them wearing their clothes and fabric, and then flew into the night sky.

Then Jaka Tarub understand that these women are the angels Khayangan. But an angel left on the lake. Since losing her clothes she could not return to the sky and then burst into tears. "If anyone finds clothes and my fabric, when a man I'll make my husband and when the woman I'll make you," the angel oath. Jaka Tarub then reveal themselves and entertain the angel. He gave a piece of cloth to wear angel, but still hide his clothes so he could fly to Khayangan left.

The angel then fulfill her vow and married Jaka Tarub. When Nawang Wulan crying in the lake, Jaka Tarub straight up and cheer, and it offers a place to stay for Nawang Wulan until then eventually they married. Nawang Wulan angel's name, since married to Jaka Tarub live well. Harvest is abundant and always filled with rice granary without ever lack. Clothing Nawang Wulan Jaka Tarub hidden in a barn that is always full. They were blessed with a son and live happily. But after a long married life, Jaka Tarub curiosity. Every day he and his family always eat rice, but the barn always never diminished as if no rice is used for their meal.

One day, Nawang Wulan wanted to go to the river. She advised the husband to keep the fire in the kitchen stove, but forbade him to open the pot lid. Jaka Tarub doing her message, but the curiosity that has been buried for a long time finally make violating the ban. He opened the lid on the pot and it turns out there is only one grain of rice. Apparently during this Nawang Wulan only takes a grain of rice to meet the needs of their family rice a day. When Nawang Wulan went home and opened the lid of the pot, there is a grain of rice in it. Nawang Wulan was angry because her husband had violated the ban, and she became upset because since then she had to cook rice like a normal human being.

She must take pains to pound rice into rice so before then menanaknya into rice. Used continuously as a result, over time the supply of rice in the barn Jaka Tarub dwindling. Slowly but surely, they are running out of rice, while the harvest season had not yet arrived.

When one day Nawang Wulan re-take of rice to be ground, she saw a piece of cloth sticking out behind a pile of rice. When drawn, and noticed, remembered that it was Nawang Wulan angel's clothes. "Apparently during this Jaka Tarub that hid my clothes. And because the contents of the barn is decreasing in the end I could find it again. It must be the will of The Above, "she thought. Nawang Wulan then use angel's dressed and took the cloth. She then met Jaka Tarub to say goodbye and asked her care for their child well.

Jaka Tarub implored Nawang Wulan not to leave, but was meant to return to Khayangan and leave him. "Remind me when looking at the moon. I will comfort you from up there, "said Nawang Wulan. She then flew into the sky towards Khayangan, leaving Jaka Tarub crying in regret.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu maupun menimba ilmu. Ketika suatu hari di malam bulan purnama ia memasuki hutan, dari kejauhan ia mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang bercanda. 

Terdorong oleh rasa penasaran, Jaka Tarub berjalan mencari arah menuju suara-suara itu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah hutan, beserta 7 orang wanita yang sangat cantik sedang mandi dan bercanda ria.

Dengan mengendap- ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat. Kemudian ia menemukan pakaian wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah satunya dan menyembunyikannya. Beberapa saat pun berlalu dan para bidadari sudah hendak kembali ke khayangan. 6 dari mereka memakai pakaian dan kain mereka, lalu terbang ke langit malam. 

Barulah Jaka Tarub mengerti kalau wanita-wanita itu adalah para bidadari khayangan. Namun seorang bidadari tertinggal di danau. Karena kehilangan pakaiannya ia tidak bisa kembali ke langit dan kemudian menangis tersedu-sedu. “Bila ada yang menemukan pakaian dan kainku, bila laki-laki akan kujadikan suami dan bila perempuan akan kujadikan saudara,” sumpah sang bidadari. Jaka Tarub kemudian menampakkan dirinya dan menghibur sang bidadari. Ia memberikan selembar kain untuk dipakai bidadari itu, namun tetap menyembunyikan pakaiannya supaya ia tak bisa terbang ke khayangan meninggalkannya.  

Sang bidadari kemudian memenuhi sumpahnya dan menikah dengan Jaka Tarub. Ketika Nawang Wulan menangis di danau, Jaka Tarub langsung muncul dan menghiburnya, lalu ia menawarkan tempat tinggal untuk Nawang Wulan sampai kemudian akhirnya mereka menikah. Nawang Wulan nama bidadari itu, sejak menikah dengannya Jaka Tarub hidup berkecukupan. Panennya melimpah dan lumbung selalu dipenuhi oleh padi tanpa pernah berkekurangan. Pakaian Nawang Wulan disembunyikan Jaka Tarub di dalam lumbung yang selalu penuh. Mereka pun dikaruniai seorang anak dan hidup berbahagia. Namun setelah beberapa lama hidup berumah tangga, terusiklah rasa ingin tahu Jaka Tarub. Setiap hari ia dan keluarganya selalu makan nasi, namun lumbung selalu tidak pernah berkurang seolah tak ada padi yang dipakai untuk mereka makan.

Suatu hari Nawang Wulan hendak pergi ke sungai. Ia berpesan pada suaminya supaya menjaga api tungku di dapur, namun melarangnya untuk membuka tutup periuk. Jaka Tarub melakukan pesan istrinya, namun rasa penasaran yang sudah dipendamnya sejak lama akhirnya membuatnya melanggar larangan yang sudah dipesankan. Dibukanya tutup periuk dan di dalamnya ternyata hanya ada satu butir beras. Rupanya selama ini Nawang Wulan hanya membutuhkan sebutir beras untuk memenuhi kebutuhan nasi mereka sekeluarga dalam sehari. Ketika Nawang Wulan pulang dan membuka tutup periuk, hanya ada sebutir beras di dalamnya. Marahlah Nawang Wulan karena suaminya telah melanggar larangannya, dan ia pun menjadi sedih karena sejak saat itu ia harus memasak nasi seperti manusia biasa.

Ia harus bersusah payah menumbuk padi sehingga menjadi beras sebelum kemudian menanaknya menjadi nasi. Akibatnya karena dipakai terus menerus, lama kelamaan persediaan padi di lumbung Jaka Tarub semakin menyusut. Pelan tapi pasti, padi mereka semakin habis, sementara musim panen masih belum tiba. 

Ketika suatu hari Nawang Wulan kembali mengambil padi untuk ditumbuk, dilihatnya seonggok kain yang tersembul di balik tumpukan padi. Ketika ditarik dan diperhatikan, teringatlah Nawang Wulan kalau itu adalah pakaian bidadarinya. “Rupanya selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan pakaianku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi kehendak Yang Di Atas,” pikirnya. Nawang Wulan kemudian mengenakan pakaian bidadarinya dan mengambil kainnya. Ia lalu menemui Jaka Tarub untuk berpamitan dan memintanya merawat anak mereka baik-baik. 

Jaka Tarub memohon dengan sangat agar istrinya tidak meninggalkannya, namun sudah takdir Nawang Wulan untuk kembali ke khayangan dan berpisah dengannya. “Kenanglah aku ketika melihat bulan. Aku akan menghiburmu dari atas sana,” kata Nawang Wulan. Ia pun kemudian terbang ke langit menuju khayangan, meninggalkan Jaka Tarub yang menangis dalam penyesalan.



:: Tetaplah Kita Pegang Janji Apabila Kita Berjanji Pada Orang Lain ::